Laporan Wartawan Tribunnews.com, Namira Yunia Lestanti

TRIBUNNEWS.COM, KOLOMBO – Bank sentral Sri Lanka (CBSL) mengumumkan kenaikan suku bunga acuannya ke level tertinggi, demi menghentikan laju inflasi yang saat ini telah menyentuh angka 54,6 persen, Kamis (7/6/2022).

Dimana suku bunga Standing Lending Facility akan dikerek naik menjadi 15,5 persen sementara suku bunga Standing Deposit Facility dipatok maju menuju 14,5 persen, mengutip dari Channel News Asia.

Keputusan ini diambil setelah angka inflasi di Sri Lanka terus melesat menuju level tertinggi sejak 21 tahun silam. Hal inilah yang membuat pemerintah Sri Lanka khawatir apabila inflasi ini dapat memperparah kondisi ekonomi di negaranya.

Baca juga: Gara-gara BBM Langka, Seorang Pria Meninggal dalam Antrean Bahan Bakar di Sri Lanka

Terlebih saat ini ekonomi Sri lanka telah mengalami kejatuhan, imbas kosongnya cadangan devisa negara. Hingga membuat Sri Lanka kesulitan melakukan impor bahan pokok serta melunasi utang luar negerinya.

“Dewan berpandangan bahwa pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut akan diperlukan untuk menahan peningkatan ekspektasi inflasi yang merugikan,” kata CBSL dalam sebuah pernyataan.

Kenaikan ini bukanlah kali pertama yang dilakukan CBSL, pada April lalu bank sentral Sri Lanka diketahui telah menaikkan suku bunga sebesar 700 basis poin. Namun sayangnya cara tersebut tak cukup mampu menetralkan laju inflasi, justru ekonomi di Sri Lanka kian berkontraksi.

Baca juga: Presiden Sri Lanka Minta Vladimir Putin Bantu Impor Bahan Bakar

Bahkan 22 juta warga negara Sri Lanka tengah dilanda kekurangan makanan, bahan bakar, dan obat-obatan. Khawatir krisis ini akan terus berlanjut hingga beberapa tahun kedepan, membuat CBSL mengambil langkah ekstrem dengan mengerek naik suku bunga acuan di tengah kekosongan devisa negara.

“Imbal hasil obligasi melonjak pada hari Rabu di tengah ekspektasi kenaikan sekitar 500 basis poin tetapi yang menarik adalah bank sentral menahan keputusannya di Sri Lanka melihat dis-inflasi pada kuartal kedua 2023,” kata Udeeshan Jonas, kepala strategi. di perusahaan riset ekuitas CAL.

Meski langkah tersebut belum tentu dapat menstabilkan kondisi ekonomi Sri Lanka, namun CBSL yakin dengan cara ini setidaknya Rusia dapat mengurangi gangguan pasokan yang berkelanjutan, terutama karena kekurangan listrik dan energi.


Artikel ini bersumber dari www.tribunnews.com.