Jakarta:  Menjadi pilot merupakan salah satu profesi yang banyak dilirik masyarakat pada umumnya.  Selain tampilannya yang gagah, konon menjadi pilot juga memiliki penghasilan yang menggiurkan.
 
Profesi pilot sendiri masih dibagi ke dalam beberapa jenis, di antaranya pilot pesawat komersial dan pesawat tempur.  Meski sama-sama mengendarai pesawat, namun jalur pendidikan yang harus ditempuh antara pesawat komersial dan pesawat tempur memiliki perbedaan.
 
Di Indonesia, untuk menjadi pilot pesawat tempur harus melalui pintu Akademi Angkatan Udara (AU). Akademi Angkatan Udara sendiri merupakan pendidikan TNI untuk mencetak perwira TNI Angkatan Udara.





Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menempuh pendidikan di AAU membutuhkan waktu yang tidak singkat.  Kepala Seksi Operasi Skadron Udara 11 Wing 5 Lanud Sultan Hasanuddin, Muhammad Idris Kurniawan mengaku membutuhkan waktu 3,5 tahun untuk lulus akademi TNI AU.
 
Setelah lulus pun Ia masih harus mengikuti beberapa tes dan fase lagi selama 1,5 tahun untuk bisa menerbangkan pesawat tempur.  Impian Idris, untuk menjadi pilot pesawat tempur sebenarnya sudah dimulai sejak SMA.
 
Untuk membangun impiannya, Idris pun mulai merancangnya sejak lulus SMA.  “Ketika lulus SMA itu saya sudah memikirkan begitu akan mendaftar AU, dan mulai melakukan persiapan masuk akademi,” ujar Idris dalam siaran instagram @beasiswaosc, Jumat 15 Juli 2022.
 
Saat itu, ia mulai mempersiapkan untuk menembus akademi yang dimulai dari persiapan administrasi.  “Mulai itu langsung saya siapkan ijazah, KTP, juga belajar-belajar untuk tes psikologi,” ungkapnya.
 
Kemudian, karena tahu ada tes kesehatan, Ia pun melakukan cek kesehatan secara mandiri. Mulai dari kondisi tubuh, deteksi penyakit hingga memeriksa kesehatan mata dan buta warna.
 
“Kemudian persiapan fisik, karena ini pendidikan tentara, jadi akan diuji tes fisik seperti lari, kemudian pull-up, sit-up, push-up itu ada nilai minimum yang harus dicapai, minimal push-up itu kurang lebih 30,” jelasnya.
 
Setelah dinyatakan lolos seleksi, masuklah Idris dalam tahap saringan pendidikan. Dari 165 orang angkatannya di 2007, hanya 30 orang yang akhirnya dilantik menjadi penerbang.
 
“Karena itu banyak sekali fase, ketika satu fase tidak lolos maka akan diuji lagi, kalau gagal lagi tidak berhak melanjutkan pendidikan,” sambungnya.
 
Pada tahap inilah, kata dia, kekuatan mental diuji. Namun hal itu akan terasa ringan ketika memang semangat meraih cita-cita sangat besar.  “Apalagi kita berjuang bersama teman kan bisa saling mendukung. Dan ingat ini tujuan kita,” terangnya.
 
Bagi Idris, menjadi pilot pesawat tempur adalah proses pembelajaran terus menerus. Akan selalu ada tantangan untuk terus berkembang sebagai seorang pilot tempur.
 
“Intinya selalu semangat ke depan sehingga harus punya tujuan untuk mencapainya dengan kerja keras. Bagi rekan-rekan yang ingin jadi penerbang, TNI AU selalu membuka kesempatan yang luas, silakan mendaftar, cek informasi di internet, dan seluruh proses pendaftaran tidak dipungut biaya,” pungkasnya.
 

 

(CEU)

Artikel ini bersumber dari www.medcom.id.