redaksiharian.com, Jakarta – Kenaikan tajam harga bahan bakar minyak di Amerika Serikat memicu kemarahan sejumlah warga. Lonjakan ini terjadi di tengah dampak konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran.
Laporan dari AFP menyebutkan bahwa pada Selasa (31/3), harga bensin di berbagai wilayah AS meningkat hingga sekitar 35 persen, bahkan melampaui angka US$4 per galon.
Seorang warga lanjut usia, Jeanne Williams (83), mengaku terkejut saat melihat harga bahan bakar di sebuah pom bensin di kawasan Virginia. Ia menyebut kondisi ini membingungkan dan membuatnya tidak nyaman, serta menegaskan bahwa masyarakat tidak menginginkan konflik tersebut.
Di wilayah Falls Church, harga bensin tercatat mulai dari sekitar US$3,7 per galon untuk pembayaran tunai, sementara tarif lebih tinggi berlaku bagi pengguna kartu. Williams, yang merupakan pensiunan pegawai negeri dan sedang menjalani pengobatan kanker, mengaku kini harus mengandalkan tabungan karena biaya hidup semakin meningkat.
Situasi serupa juga dirasakan warga lain. Luis Ramos (26) menilai kenaikan harga tersebut tidak masuk akal, terlebih di tengah tingginya biaya hidup di kota besar seperti New York.
Sementara itu, David Lee (39), yang rutin mengisi bahan bakar dua kali seminggu, mengungkapkan bahwa ia kini harus mengeluarkan biaya tambahan sekitar US$10 setiap kali mengisi bensin dibandingkan sebelumnya. Meski masih mampu menanggungnya, ia melihat banyak orang di sekitarnya mulai mengurangi frekuensi berkendara.
Keluhan juga datang dari Joseph Crouch (77), yang mengaku kini tidak bisa lagi berkendara sesering dulu. Ia menilai pemerintah belum mampu menangani situasi dengan baik dan menyebut masyarakatlah yang menanggung dampak konflik tersebut.
Pendapat serupa disampaikan oleh Fred Koester (78), yang mengkritik konflik tersebut sebagai sesuatu yang tidak perlu dan justru merugikan warga sendiri.
Konflik yang berlangsung sejak akhir Februari itu telah memicu krisis energi global, dengan harga minyak dunia berulang kali menembus angka di atas US$100 per barel. Dampaknya dirasakan di berbagai kawasan, mulai dari Asia hingga Eropa.
Sejumlah negara bahkan mulai mengambil langkah antisipatif, seperti mendorong kebijakan kerja dari rumah serta mengajak masyarakat beralih ke transportasi umum guna menekan konsumsi energi.