redaksiharian.com – Enam petenis putri berbeda telah menjuarai Wimbledon dalam enam edisi terakhir turnamen terakhir tersebut dan hingga ajang Grand Slam lapangan rumput itu mulai pada 3 Juli nanti, sulit memetakan siapa menjadi favorit.

Peringkat satu dunia Iga Swiatek telah menaklukkan lapangan tanah liat dan keras, namun petenis Polandia itu belum pernah merasakan kesuksesan di atas rumput dan tak pernah mencapai perempat final di All England Club.

Elena Rybakina dengan servis kerasnya akan berupaya mempertahankan gelarnya, namun sejumlah petenis muncul sebagai penantang serius di Wimbledon nanti.

Aryna Sabalenka (Belarus)

Petenis peringkat dua dunia asal Belarus itu telah merapikan permainannya pada tahun ini dan melancarkan servis kencangnya dengan lebih teratur, yang membantunya memenangi Australia Open pada Januari.

Sabalenka juga telah memangkas jarak yang cukup besar dari peringkat satu dunia Swiatek lewat sejumlah turnamen tanah liat, dengan mengalahkan dia di final Madrid, meski tersingkir di semifinal French Open karena Karolina Muchova.

Petenis 25 tahun itu absen di Wimbledon tahun lalu karena sanksi terhadap petenis Rusia dan Belarus menyusul invasi Moskow ke Ukraina, dan ia menjadi pusat perhatian di Roland Garros ketika sikapnya terhadap perang dipertanyakan.

Sabalenka telah menjaga jarak dari presiden Belarus Alexander Lukashenko dan akan berkompetisi di bawah bendera netral di Wimbledon.

Ons Jabeur (Tunisia)

Setelah Jabeur kalah di perempat final French Open, hanya satu hal yang ada di benak petenis peringkat enam dunia itu yaitu musim lapangan rumput.

Jabeur mengatakan dia agak kaku bermain di Roland Garros menyusul sejumlah cedera yang dialami pada tahun ini, namun bertekad untuk tampil lebih baik di atas rumput.

Jabeur selangkah merebut gelar tahun lalu ketika ia memenangi set pertama sebelum kalah atas Rybakina di final, tapi petenis 28 tahun itu akan berupaya merengkuh peluang menjadi petenis putri pertama berdarah Afrika dan Arab yang memenangi gelar tunggal Grand Slam.

Menyusul kekalahannya di Roland Garros, Jabeur mengatakan lapangan rumput lebih cocok dengan gaya permainannya yang tak lazim dan dia tak sabar lagi untuk turnamen pemanasan di Berlin dan Eastbourne.

“Saya berharap merebut titel di Wimbledon, saya memimpikannya. Itu hal yang selalu saya inginkan,” kata Jabeur dikutip Reuters.

Coco Gauff (Amerika Serikat)

Gauff boleh jadi baru berusia 19 tahun, tapi petenis peringkat tujuh dunia itu sudah malang melintang mengayunkan raketnya sejak masih belia hingga menjalani debutnya dalam undian utama para petenis top di Wimbledon pada 2019.

Petenis Amerika Serikat itu membuat kejutan ketika ia mengalahkan juara lima kali Venus Williams lewat dua set langsung menuju babak keempat turnamen dan sejak itu telah masuk ke jajaran sepuluh besar dunia.

Memiliki salah satu servis terkencang di antara rival-rivalnya, Gauff akan menggunakan senjata yang ampuh di lapangan rumput itu untuk mengincar gelar Wimbledon setelah ia kalah dari Swiatek di Roland Garros.

“Membawanya ke Grand Slam selanjutnya, saya sangat bersemangat. Saya suka lapangan rumput. Saya punya hasil yang baik di sana,” kata Gauff.

“Saya rasa saya bisa banyak berkembang dan saya hanya berharap menjadi lebih baik dan meningkat,” katanya menambahkan.