RedaksiHarianDikutip dari laman IQAir pukul 10.00 WIB, US air quality index (AQI US) atau indeks kualitas udara di Jakarta tercatat di angka 156.

Adapun konsentrasi polutan tertinggi dalam udara DKI Jakarta hari ini PM 2.5. Konsentrasi tersebut 14.4 kali nilai panduan kualitas udara tahunan World Health Organization (WHO).

Jakarta berada di posisi ketiga, setelah Dubai dengan US air quality index (AQI US) 168 dan Qatar dengan US air quality index (AQI US) 161.

ADVERTISEMENT

Kualitas udara yang tidak sehat ini pun diprediksi bakal terus terjadi hingga 29 Agustus 2023 mendatang. Untuk itu, masyarakat Kota Jakarta pun direkomendasikan untuk mengenakan masker, menghidupkan penyaring udara , menutup jendela, hingga mengurangi aktivitas di luar ruangan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta menyebut punya tiga opsi metode untuk menekan polusi udara di Ibu Kota tersebut.

“Ada tiga metode,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta Isnawa Adji saat dikonfirmasi di Jakarta , Selasa, 22 Agustus 2023.

Pertama, BPBD berencana menggunakan metode teknik modifikasi cuaca (TMC) konvensional. Metode ini bisa dilakukan tidak hanya di atas wilayah DKI Jakarta saja, tetapi di atas wilayah lain.

Dalam hal ini termasuk daerah penyangga Jakarta , seperti Tangerang, Bekasi, atau Kepulauan Seribu jika memungkinkan untuk melindungi Jakarta dari polusi udara .

Metode kedua dengan “dry ice”. Cara ini pernah dilakukan sebelumnya di Thailand. Namun, kata Isnawa, metode ini jarang dilakukan.

“Istilahnya “dry ice” tapi itu tidak mungkin dilakukan di Jakarta . Metode ini pernah dilakukan di Thailand tapi jarang dilakukan. Itu seperti menyebarkan batu-batu es,” ujar Isnawa.

Baca Juga: Polemik Food Estate, Lumbung Pangan Berakhir Jadi Kejahatan Lingkungan?

Ketiga, yakni melakukan spraying atau penyemprotan seperti yang pernah diterapkan di Beijing. Metode ini dilakukan dengan pesawat kecil, drone atau dari atas gedung-gedung tinggi di Jakarta .

“Tapi ini belum. Mungkin nanti mau kita usulkan, mungkin bangunan-bangunan tinggi boleh juga tuh ada teknologi ‘spraying’ ya supaya polutan-polutan itu bisa diredam,” ucap Isnawa, dikutip Pikiran-Rakyat.com dari Antara.

Isnawa menyebut, tiga metode tersebut merupakan hasil dari rapat gabungan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam rangka memperbaiki kualitas udara di Jakarta . Berdasarkan hasil rapat itu, musim kemarau cukup berpengaruh pada meningkatnya polutan di Jakarta , sehingga teknik modifikasi cuaca disepakati untuk memancing hujan.

“Hasil rapat itu memang kendalanya kita lagi musim kemarau, jadi namanya gumpalan awan hujan itu sulit. Tapi di 21 (Agustus) ini menurut BMKG ada potensi sedang, kemungkinan bisa dilakukan TMC,” tutur Isnawa.***