redaksiharian.com, Semarang -Pemerintah Turki mengecam keras serangan militer yang kembali dilakukan Israel di wilayah selatan Beirut, ibu kota Lebanon, selama akhir pekan lalu.
Militer Israel menyatakan serangan udara tersebut ditujukan untuk menargetkan kelompok milisi Hezbollah yang berbasis di Lebanon dan diketahui mendapat dukungan dari Iran.
Namun, pemerintah Turki menyampaikan kekhawatiran serius atas operasi militer yang terus berlanjut tersebut. Negara yang dipimpin oleh Recep Tayyip Erdogan itu memperingatkan bahwa tindakan Israel berpotensi memicu tragedi kemanusiaan baru di Lebanon.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis Kementerian Luar Negeri Turki pada Minggu (16/3), Ankara menyerukan agar komunitas internasional segera mengambil langkah untuk menghentikan tindakan Israel yang dinilai terus menimbulkan penderitaan di kawasan Timur Tengah.
Turki juga menilai kebijakan yang diterapkan pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berpotensi memicu bencana kemanusiaan baru, setelah sebelumnya Israel juga dituduh melakukan tindakan serupa di wilayah Palestina, termasuk di Gaza Strip dan West Bank.
Ankara secara tegas mengecam operasi darat yang dilakukan Israel di Lebanon karena dianggap semakin memperburuk stabilitas kawasan.
Sementara itu, otoritas kesehatan Lebanon melaporkan bahwa serangan yang terjadi pada akhir pekan lalu menewaskan sedikitnya 12 tenaga medis. Para korban terdiri dari dokter, perawat, dan paramedis yang berada di sebuah klinik kesehatan di pusat kota Burj Qalawiya ketika roket menghantam bangunan tersebut.
Di sisi lain, militer Israel atau Israel Defense Forces (IDF) menyatakan bahwa dalam beberapa hari terakhir mereka telah meluncurkan operasi darat terbatas di wilayah selatan Lebanon.
Menurut IDF, operasi tersebut ditujukan untuk menghancurkan basis dan infrastruktur milik Hizbullah serta menyingkirkan ancaman terhadap warga Israel yang tinggal di wilayah utara negara itu.
Serangan darat tersebut dilaporkan didahului oleh serangan udara dan tembakan artileri.
Pernyataan ini mengingatkan pada konflik besar yang terjadi pada 2024 antara Israel dan Hizbullah di Lebanon, serta operasi militer Israel di Gaza pada 2023 setelah serangan yang dilakukan oleh Hamas pada 7 Oktober.
Kepala staf militer Israel, Eyal Zamir, mengatakan bahwa pihaknya telah memperkuat Komando Utara dengan tambahan pasukan guna meningkatkan sistem pertahanan di garis depan.
Ia juga mengklaim bahwa lebih dari 400 anggota milisi telah tewas dalam konflik terbaru antara Israel dan Hizbullah.
Ketegangan di kawasan meningkat setelah Lebanon ikut terseret dalam konflik Timur Tengah ketika Hizbullah melancarkan serangan ke Israel. Serangan tersebut disebut sebagai respons atas terbunuhnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel pada awal Ramadan.
Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, dalam pidato yang disiarkan di televisi pada Jumat lalu menyatakan bahwa kelompoknya siap menghadapi konflik jangka panjang dengan Israel.
Ia menegaskan bahwa Hizbullah telah mempersiapkan diri untuk menghadapi konfrontasi berkepanjangan dan menyebut konflik tersebut sebagai pertarungan yang menentukan bagi keberlangsungan kelompoknya.