redaksiharian.com, Jakarta – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memutuskan untuk menangguhkan rencana serangan terhadap Iran selama lima hari ke depan.
Melalui pernyataan yang disampaikan di platform Truth Social pada Senin (23/3), Trump mengungkapkan bahwa pihak Amhttps://redaksiharian.com/erika Serikat dan Iran telah menjalani pembicaraan yang disebutnya berlangsung positif dan konstruktif selama dua hari terakhir, terkait upaya meredakan konflik di kawasan Timur Tengah.
Sebagai tindak lanjut dari komunikasi tersebut, Trump memerintahkan penghentian sementara seluruh operasi militer yang menargetkan fasilitas pembangkit listrik serta infrastruktur energi milik Iran. Penundaan ini akan berlangsung selama lima hari, dengan catatan proses dialog yang sedang berjalan menunjukkan perkembangan yang baik.
Ia menyebut pembicaraan tersebut berlangsung secara mendalam dan rinci, serta akan terus berlanjut dalam beberapa hari ke depan.
Pernyataan ini menjadi yang pertama dari Trump terkait upaya penghentian konflik sejak perang dengan Iran pecah pada 28 Februari lalu. Konflik tersebut telah meluas hingga melibatkan sejumlah negara di kawasan Arab dan memicu krisis energi global.
Dampaknya, harga minyak dunia sempat melonjak hingga menembus angka 100 dolar AS per barel. Gangguan distribusi terjadi akibat tersendatnya jalur pengiriman minyak di Selat Hormuz serta serangan yang menyasar fasilitas energi di wilayah tersebut.
Situasi semakin memanas setelah Trump sebelumnya mengeluarkan ultimatum kepada Iran agar membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz dalam waktu 48 jam, atau menghadapi serangan terhadap infrastruktur energinya.
Namun, media Iran seperti Tasnim News Agency dan Fars News Agency membantah adanya komunikasi antara kedua negara. Bahkan, Kedutaan Besar Iran di Afghanistan menyindir bahwa langkah Trump mencerminkan kekhawatiran atas ancaman dari Iran.
Sebelumnya, Iran juga telah memperingatkan akan membalas dengan menyerang seluruh fasilitas energi milik Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah jika pembangkit listrik mereka menjadi sasaran.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pejabat Iran terkait keputusan terbaru yang diumumkan oleh Trump.