Presiden Iran pada Senin (29/8) memperingatkan peta jalan untuk memulihkan kesepakatan nuklir Teheran dengan negara-negara besar dunia hanya akan terwujud jika para inspektur internasional mengakhiri penyelidikan mereka mengenai partikel uranium buatan manusia yang ditemukan di situs-situs yang tidak diumumkan di negara itu.

Dalam konferensi pers langka yang menandai tahun pertamanya menjabat, Presiden Ebrahim Raisi juga mengeluarkan ancaman terhadap Israel dan berusaha terdengar optimistis meski ekonomi Iran dan mata uang rialnya telah melemah di bawah beban sanksi internasional.

Terlepas dari perhatian internasional pada kesepakatan itu, Raisi terkesan enggan membahasnya dalam konferensi pers itu. Ia membutuhkan waktu lebih dari satu jam sebelum akhirnya mengakui adanya negosiasi soal kesepakatan tersebut.

Teheran dan Washington telah bertukar tanggapan tertulis dalam beberapa pekan terakhir terkait poin-poin pada peta jalan itu, yang akan mencabut sanksi-sanksi terhadap Iran sebagai imbalan untuk membatasi program nuklirnya yang berkembang pesat.

Teknisi bekerja di sirkuit sekunder reaktor air berat Arak, 250 kilometer barat daya Teheran, 23 Desember 2019. (Foto: via AP)

Teknisi bekerja di sirkuit sekunder reaktor air berat Arak, 250 kilometer barat daya Teheran, 23 Desember 2019. (Foto: via AP)

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) selama bertahun-tahun telah meminta Iran menjawab pertanyaan tentang partikel uranium buatan manusia yang ditemukan di situs-situs yang tidak diumumkan. Badan-badan intelijen AS, negara-negara Barat dan IAEA mengatakan Iran menjalankan program senjata nuklir terorganisir sampai tahun 2003. Iran telah lama membantah pernah mengupayakan senjata nuklir.

Sebagai anggota Kesepakatan Nonproliferasi Nuklir, Iran berkewajiban menjelaskan jejak radioaktifnya dan memberikan jaminan bahwa bahan-bahan radioaktifnya tidak digunakan sebagai bagian dari program senjata nuklir. Iran dikritik oleh Dewan Gubernur IAEA pada bulan Juni atas kegagalannya menjawab pertanyaan tentang situs-situs tersebut.

Berdasarkan kesepakatan nuklir 2015, Teheran dapat memperkaya uranium hingga 3,67%, sambil mempertahankan persediaan uranium sebanyak 300 kilogram di bawah pengawasan konstan kamera pengintai dan inspektur IAEA. Presiden Donald Trump saat itu secara sepihak menarik Amerika dari perjanjian itu pada 2018, sehingga memicu ketegangan yang meningkat selama bertahun-tahun.

Pada penghitungan publik terakhir IAEA, Iran memiliki persediaan sekitar 3.800 kilogram uranium yang diperkaya. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, Iran sekarang memperkaya uranium hingga kemurnian 60% — atau hanya satu langkah teknis singkat menuju kemurnian 90%. Para ahli itu memperingatkan Iran memiliki cukup uranium yang diperkaya untuk membuat setidaknya satu bom nuklir.

Di tengah ketegangan tersebut, Israel diduga melakukan serangkaian serangan yang menarget situs-situs nuklir Iran, serta seorang ilmuwan terkemuka. Pada hari Senin, Raisi langsung mengancam Israel.

Raisi mengatakan jika Israel memutuskan untuk mewujudkan ancamannya untuk menghancurkan program nuklir Iran, “mereka akan melihat apakah akan ada yang tersisa dari rezim Zionis itu.”

Pada konferensi pers pertamanya, Raisi hanya mengatakan “tidak” ketika ditanya apakah dia akan bertemu dengan Presiden Joe Biden. Ditanya lagi Senin, menjelang sidang Majelis Umum PBB bulan depan, Raisi tetap pada jawaban sebelumnya.

”Tidak ada gunanya pertemuan antara kami dan dia,” kata Presiden itu. “Baik untuk bangsa Iran maupun untuk kepentingan besar negara kami.” [ab/uh]

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.