
RedaksiHarian – Seorang pelajar di Gorontalo melakukan aksi heroik saat upacara Hari Ulang Tahun atau HUT ke 78 RI berlangsung Kamis pagi.
Riski, siswa SMA Negeri 9 Gorontalo Utara yang mengikuti upacara tingkat Kecamatan Sumalata Timur itu rela memanjat tiang bendera setinggi 14 meter demi menyambung tali yang terputus di tengah pengibaran.
Camat Sumalata Timur Gorontalo Utara Provinsi Gorontalo Nurhayati Wunati mengatakan, pihaknya tidak menyangka akan ada pelajar yang rela melakukan aksi berbahaya itu demi melihat sang Saka berkibar di langit 17 Agustus.
ADVERTISEMENT
Kejadian bermula ketika pasukan pengibar bendera (Paskibra) mengerek tali untuk menaikkan bendera .
Diduga terlalu keras, tali bendera itu pun putus di tengah tiang.
“Kebetulan saat tali bendera putus, diduga karena tarikan petugas penggerek yang terlalu keras, Riski berada di barisan pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) sebagai peserta upacara penaikan bendera ,” ujarnya.
Kebetulan saat itu, Riski menjadi peserta upacara di barisan paling depan.
Dia memberanikan diri untuk memanjat tiang guna menyambung kembali tali yang terputus.
Melihat aksi heroik yang dilakukan oleh remaja itu, Camat Sumalata Timur mengaku terharu.”Riski tiba tiba berlari ke arah tiang bendera kemudian memanjat untuk menyambung tali yang putus. Aksi nekat ini sangat heroik. Kami terharu menyaksikannya,” kata Nurhayati.
Tak hanya membuat terenyuh camat, Riski juga mendapat apresiasi dari Sekretaris Bidang Kelautan dan Perikanan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) I KNPI Gorontalo Utara Poniran Kai.
“Kami dari KNPI mengapresiasi keberanian Riski mengingat tiang bendera itu setinggi 14 meter. Namun Riski mampu berlari sekuat tenaga memanjat secepat mungkin untuk bisa menyambung tali yang putus,” katanya.
“Kami dari KNPI sangat terharu sekaligus bangga dengan aksi yang dilakukan Riski. Aksi heroik yang menunjukkan nilai nilai patriotisme yang patut diteladani generasi muda saat ini,” ujar Poniran.
Tiang bendera setinggi 14 meter tentunya menyimpan risiko bahaya jika dipanjat. Namun saat itu Riski mengaku tak pikir panjang karena terpanggil untuk membantu pengibar bendera .
“Pak guru yang berada di barisan sempat meminta para siswa untuk membantu. Kebetulan saya ada di barisan itu spontan berlari untuk memanjat tiang bendera ,” kata Riski.
Dia mengaku hanya ingin melihat bendera berkibar dan tidak mengharapkan balasan apa pun.
“Yang ada di pikiran agar cepat berlari, memanjat, dan menyambung tali. Kemudian saya langsung turun agar bendera bisa segera berkibar,” ucap Riski.
Hematnya, melihat sang Saka berkibar adalah tujuan utama dari upacara itu sendiri.
“Saya cuma ingin melihat bendera berkibar di upacara ini,” katanya.***