Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bataan (BNPP), yang bernilai $2,3 miliar, di Filipina belum memproduksi listrik meski pembangunannya telah rampung sejak 1984. Padahal proyek itu dibangun atas janji-janji pemerintah Filipina pada saat itu untuk menjaga keamanan energi saat krisis minyak yang menghantam pada tahun 1970-an.

PLTN tersebut dibangun atas persetujuan mantan presiden Ferdinand Marcos, yang terkenal atas kediktatorannya. Kini, lebih dari tiga dekade berselang sejak pembangunan PLTN tersebut rampung, putra Marcos, Ferdinand Marcos Jr, yang merupakan presiden Filipina yang baru, menghidupkan kembali diskusi untuk merehabilitasi PLTN tersebut di tengah krisis energi yang terjadi saat ini. Krisis yang tengah berlangsung telah mendorong harga bahan bakar pembangkit listrik tradisional, batu bara dan gas alam ke angka yang belum pernah tercatat sebelumnya.

Diliriknya PLTN BNPP adalah salah satu tanda tumbuhnya kembali minat terhadap tenaga nuklir. Pemerintah di negara-negara Eropa dan Asia sedang memperluas armada pembangkit nuklir mereka yang sudah tua, memulai kembali reaktor dan menghapus rencana untuk melanjutkan proyek yang tertunda setelah krisis nuklir 2011 di Fukushima, Jepang.

Seorang penjaga keamanan berjalan di depan gerbang utama Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bataan di kota Morong di Provinsi Bataan, utara Manila. (Foto: AFP)

Seorang penjaga keamanan berjalan di depan gerbang utama Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bataan di kota Morong di Provinsi Bataan, utara Manila. (Foto: AFP)

“Jika harga bahan bakar fosil tetap tinggi untuk jangka waktu tiga hingga empat tahun, saya pikir itu akan cukup untuk meluncurkan zaman keemasan pengembangan nuklir terutama di Asia karena di situlah mereka paling sensitif terhadap harga dan karena paling membutuhkan,” kata Alex Whitworth, Kepala Penelitian Tenaga Listrik Energi Terbarukan Asia di lembaga konsultan Wood Mackenzie.

PLTN Tomari milik Hokkaido Electric Power Co. terlihat di Kota Tomari di Pulau Hokkaido utara Jepang, dalam gambar ini diambil oleh Kyodo pada 16 April 2008. (Foto: Kyodo via REUTERS)

PLTN Tomari milik Hokkaido Electric Power Co. terlihat di Kota Tomari di Pulau Hokkaido utara Jepang, dalam gambar ini diambil oleh Kyodo pada 16 April 2008. (Foto: Kyodo via REUTERS)

Sedangkan Asia akan mendorong pembangunan reaktor baru karena pusat manufaktur dunia tersebut sedang mencari listrik beban dasar untuk melengkapi energi terbarukan dan menggantikan bahan bakar fosil, kata pakar industri.

Singapura, Filipina dan Jepang sedang membahas teknologi baru seperti reaktor modular kecil (SMR) yang notabene lebih cepat dibangun dan lebih murah dibanding dengan unit konvensional, kata Paul Stein, ketua Rolls-Royce pada bulan lalu.

Artikel ini bersumber dari www.voaindonesia.com.