redaksiharian.com, Jakarta – Pada perdagangan Senin pagi (20/4), nilai tukar rupiah tercatat berada di posisi Rp17.164 terhadap dolar Amerika Serikat. Angka ini menunjukkan penguatan sebesar 25 poin atau sekitar 0,15 persen dibandingkan sesi sebelumnya.
Pergerakan mata uang di kawasan Asia didominasi pelemahan. Yen Jepang turun 0,14 persen, baht Thailand melemah 0,18 persen, yuan China terkoreksi 0,04 persen, dan won Korea Selatan merosot cukup dalam hingga 0,94 persen. Sementara itu, peso Filipina menjadi salah satu yang menguat tipis sebesar 0,04 persen.
Di sisi lain, dolar Singapura turun 0,22 persen dan dolar Hong Kong melemah tipis 0,01 persen pada awal perdagangan hari ini.
Untuk mata uang dari negara maju, tren pelemahan juga terlihat. Euro Eropa turun 0,08 persen, poundsterling Inggris terkoreksi 0,14 persen, serta franc Swiss melemah 0,12 persen. Hal serupa terjadi pada dolar Australia dan dolar Kanada yang masing-masing turun sebesar 0,31 persen.
Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai penguatan rupiah didorong oleh kebijakan pemerintah dalam menaikkan harga BBM nonsubsidi. Kebijakan tersebut dinilai mampu membantu mengurangi tekanan terhadap anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).
Meski demikian, ia menambahkan bahwa ketidakpastian terkait kondisi di Selat Hormuz masih menjadi faktor penahan penguatan lebih lanjut. Selain itu, pelaku pasar juga cenderung menunggu perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran, serta hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada Rabu.
Untuk hari ini, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp17.100 hingga Rp17.250 per dolar AS.