RedaksiHarian – Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD)DurenSawit, Jakarta Timur menggencarkan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya memelihara kesehatan jiwa.
Direktur Rumah Sakit Khusus Daerah Duren Sawit Nikensari Koesrindartiamengatakan sejak pandemi yang berlangsung selama tiga tahun edukasi mengenai kesehatan jiwa terus dikuatkanmelalui Unit Kesehatan Jiwa Masyarakat (Keswamas).
“Saya sudah minta untuk melakukan kontak langsung ke masyarakat,” kata Nikensaridi Jakarta, Kamis, dalam siniar berjudul “Mental Health Issue, Apakah Ini Fenomena Gunung Es? Snack Time Eps. 39” yang ditayangkan di kanal Youtube Puskesmas Kramat Jati.
Dia menjelaskan pihaknya juga menyelenggarakan webinaruntuk memberikan edukasi seperti yang dilaksanakan pada peringatanHari Kesehatan Jiwa Nasional.
Selain itu, edukasi juga diberikan sebulan sekali secara rutin melalui siaran radio.
Menurutnya, perlu melibatkan pihak lain untuk menyosialisasikanprogram-program kejiwaan. Oleh karena itu, pihaknya melakukan tukar menukar sumber daya guna mencapai tujuan tersebut.
“Kayak gini nih hari ini. Ini jangan salah lho. Kita kolaborasi sama puskesmas ini dalam rangka ini sebenarnya, saling menukarkan sumber daya supaya apa yang bisa kami sampaikan bisa didengar oleh penggemar siniarKramat Jati gitu ya,” ujar Nikensari.
Dia juga menjelaskanmereka bekerja sama dengan komunitas, contohnya seperti , yaitu komunitas tentang kesehatan mental. Keduanya bekerja sama membuat siniar yang berfokus pada bipolar.
Upaya-upaya tersebut dilakukan guna mengedukasi masyarakat agar sadar bahwa diri bukan hanya butuh untuk tumbuh secara fisik, namun secara mental.
Menurutnya, semua orang bisa berperan aktif untuk menjaga kesehatan mental lingkungannya. Contohnya seperti anak sekolah atau Gen Z saat ini, mereka dapat melakukan itu dengan cara aktif dalam menjalin pertemanan yang sportif, serta mengadopsi pola pikir yang positif dan mematuhi norma-norma.
Dia juga mengatakan apabila saat ini adapekerja produktif, maka dapat melakukannya dengan saling memberikan dukungan, menjaga integritas, dan menunjukkan etos kerja yang baik, guna menciptakan lingkungan kerja yang sehat.
“Dan yang berikutnya, kalau sedang jadi ibu, tentunya perannya beda. Jadi ibu, jadi ayah, jadi kakek, itu masuk semua. Menjadi peran-peran pembina kesehatan mental,” katanya.
Nikensari mengatakan puskesmas juga dapat berkontribusi dalam meningkatkan kesadaran tentang kesehatan mental dengan cara melakukan skrining secara rutin, yang dapat dilakukan dengan bantuan alat-alat terkait.
Setelah mendapatkan hasil, kemudian menindaklanjutidengan kerja sama dengan psikolog dan psikiater.
Menurutnya, baik sekolah negeri maupun swasta membutuhkan inisiatif semacam itu.