
RedaksiHarian – Menanggapi hal itu, Kementerian Agama ( Kemenag ) Kabupaten Blitar pun menyerahkan kasus tersebut kepada kepolisian.
“Terkait itu, dari aspek kejadian kekerasan itu langsung ditangani pihak berwenang, kepolisian. Korban dilarikan ke UGD dan meninggal, kemudian autopsi,” kata Kasi Pendidikan Madrasah (Pendma) Kemenag Kabupaten Blitar Baharuddin, dikutip Pikiran-Rakyat.com dari Antara pada Sabtu, 27 Agustus 2023.
“Tentu ada proses hukum berikutnya, itu di luar kewenangan satuan pendidikan dan kami mendukung proses itu,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
Menurut keterangan Baharuddin, pihaknya telah meminta keterangan sejumlah guru dan pelajar yang mengetahui kasus tersebut. Pihaknya pun berharap keluarga korban sabar dan tabah.
Baharuddin menyebut kasus kekerasan berujung maut itu menjadi pembelajaran untuk para pemangku satuan pendidikan dan stakeholder agar lebih perhatian pada penguatan karakter yang dalam kurikulum merdeka tercatat sebagai Profil Pelajar Pancasila. Kejadian itu pun menjadi proses pembinaan.
Kemenag Kabupaten Blitar diketahui juga melakukan mitigasi agar sejumlah hak anak yang menyangkut masa depan tetap terjaga.
“Sekali lagi, ini jadi pelajaran yang berharga terutama bagi insan pendidikan bagi madrasah untuk lebih meningkatkan pengawasan, kemudian pembinaan karakter anak supaya punya karakter akhlak mulia, santun dan ramah. Itu saja yang penting,” ucapnya.
Tindakan kekerasan tersebut terjadi pada Jumat, 25 Agustus 2023 saat jam pergantian pembelajaran sedang berlangsung. Korban dan pelaku sama-sama merupakan pelajar kelas 9 di MTs Negeri tersebut.
Berdasarkan keterangan guru dan pelajar di sekolah tersebut, tidak ditemukan bahwa korban dan pelaku memiliki indikasi perselisihan maupun permusuhan sebelumnya. Namun, sehari sebelum kejadian, tepatnya pada Kamis, 24 Agustus 2023, pelaku diketahui masuk ke ruang kelas korban , kemudian korban menanyakan kepada pelaku mengapa ia masuk ke kelas lain.
Keesokan harinya, pelaku masuk kembali ke ruang kelas korban dan langsung menuju ke tempat duduk korban sambil berteriak.
“Hanya sehari sebelumnya, pelaku di jam istirahat masuk ruangan kelas korban kemudian ditegur kok masuk di ruang lain. Itu rupanya jadi tersinggung sehingga esok harinya melakukan tindakan tersebut,” tutur Baharuddin.
Pelaku pun memukul korban sampai tiga kali yang diketahui mengenai bagian tubuh vital, yakni tengkuk kepala belakang dan dada-ulu hati.
“Waktunya sangat singkat. Teman-temannya sudah menghalau tapi terlepas. Kejadian ini juga spontan,” katanya.
Korban sempat dibawa ke UKS hingga pihak sekolah melarikannya ke rumah sakit di Srengat, Blitar guna pemeriksaan lebih lanjut. Sayangnya, korban tak berhasil selamat.***