
RedaksiHarian – Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menilai perlu solusi alternatif dalam konteks rekayasa cuaca di wilayah yang tingkat polusi udara tinggi.
Dalam hal ini ia mengaku sudah beberapa kali mendesak Kepala BNPB agar mencari alternatif lain terkait rekayasa cuaca tersebut.
“Saya sudah berkali mendesak kepala BNPB untuk mencobalah mencari alternatif alternatif untuk melakukan rekayasa cuaca dan memang jangan hanya melakukan intersep artinya cegat mendung yang lewat,” kata Muhadjir di Jakarta, Senin, 21 Agustus 2023.
ADVERTISEMENT
“Kalau bisa mestinya digiring lah dari teknologinya seperti apa yang kira-kira bisa menciptakan itu, karena kalau nunggu ada (mendung) yang lewat, kapan itu bisa terselesaikan,” ujarnya lagi.
Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) dilakukan dalam upaya mengurangi polusi udara. Teknik ini disebut pertama kalinya dilaksanakan di wilayah Jabodetabek dengan menggunakan dana siap pakai BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana).
Dalam keterangan tertulisnya, Koordinator Laboratorium Pengelolaan TMC BRIN, Budi Harsoyo mengatakan posko TMC dipusatkan di Bandara Lanud Husein Sastranegara, Kota Bandung.
“Sabtu kemarin sudah dilaksanakan satu sorti penerbangan dengan target penyemaian di wilayah Kabupaten Cianjur, Depok, Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat,” kata Budi, yang dikutip pada Senin, 21 Agustus 2023.
Modifikasi cuaca dilakukan setelah mengetahui informasi BMKG yang memprediksikan potensi pertumbuhan awan hujan di sebagian wilayah DKI Jakarta dan Jawa Barat bagian Selatan pada 19-21 Agustus.
Dijelaskan Budi, penyemaian pada Sabtu dilakukan dengan 1 sorti penerbangan penyemaian awan hampir selama 2 jam penebangan dengan menaburkan garam semai sekitar 800 kg di atas ketinggian 9000-10.000 kaki.
Menurut Budi penanganan polusi udara paling efektif adalah dengan menjatuhkan atau mengguyurkan hujan. Namun, bila cara tersebut tidak memungkinkan, maka TMC yang dipilih dengan menargetkan stabilitas atmosfer.
Caranya dengan menaburkan bahan semai dalam bentuk dry ice atau es kering di ketinggian tertentu di udara.
Akan tetapi, metode TMC tanpa hujan tersebut memerlukan persiapan matang. Pihaknya untuk saat ini belum siap karena masih perlu mendesain dan membuat konsul untuk menempatkan dry ice di di dalam kabin pesawat.
“Dry ice ini yaitu CO2. Jika packaging dan handling di pesawat sembarangan, kru bisa kehabisan oksigen atau hypoksia,” ujarnya.
Budi mengatakan bahwa ada satu alternatif bahan semai lain yaitu dengan menggunakan kapur tohor. Bedanya semai dengan dry ice mengondisikan udara agar menjadi lebih dingin, sementara dengan kapur tohor mengkondisikan udara menjadi lebih panas.
“Tapi prinsipnya sama, mengkondisikan suhu di lapisan isotherm pada ketinggian tertentu untuk mengganggu kestabilan atmosfer,” kata Budi.
Budi menambahkan kegiatan TMC untuk mengurangi polutan sudah pernah dilakukan oleh beberapa negara yaitu Cina, Korea Selatan, Thailand, dan India. Sementara di Indonesia baru pertama kali dilakukan di wilayah Jabodetabek.***