redaksiharian.com – Gunung Penanggungan di Jawa Timur memang disucikan pada zaman kerajaan masa lalu, hingga era Majapahit.

Hal ini terbukti dengan banyaknya situs kuno peninggalan kerajaan yang tersebar di lereng hingga kaki Gunung Penanggungan.

Bahkan ketika Kompas.com mendaki Gunung Penanggungan via Jolotundo pada Rabu-Kamis (7-8 Juni 2023), ada banyak candi yang ditemui di sepanjang jalur pendakian.

Candi-candi tersebut sebagian besar berbentuk punden berundak, sehingga diduga berasal dari zaman akhir Majapahit.

Selain itu, ada satu situs peninggalan lain yang berada di dekat Basecamp Pendakian Penanggungan via Jolotundo, yakni Petirtaan Jolotundo .

Petirtaan Jolotundo

Kompas.com pun menyempatkan diri untuk berkunjung ke Petirtaan Jolotundo usai turun dari Gunung Penanggungan pada Kamis (8/6/2023).

Dari Basecamp, Kompas.com naik sepeda motor untuk ke petirtaan. Saat sampai di loket, Kompas.com harus membayar Rp 10.000 per orang.

“Ini bukanya setiap hari, 24 jam,” kata seorang petugas yang sedang berjaga di loket pada saat itu kepada Kompas.com.

Setelah itu, sepeda motor atau kendaraan masih bisa dikendarai sampai area parkir. Adapun tarif parkir adalah Rp 5.000 untuk sepeda motor dan Rp 10.000 untuk mobil.

Dari parkiran, pengunjung tinggal berjalan beberapa saat sampai lokasi petirtaan. Sesampainya di dalam, pengunjung akan langsung disambut oleh candi dengan pancuran dan beberapa kolam.

Terdapat kolam utama besar di bawah pancuran yang berisi ikan-ikan. Kolam ini bukan untuk pemandian.

Jika ingin mandi, ada bilik di masing-masing pojok kanan dan kiri. Bilik kanan adalah untuk laki-laki, dan bilik kiri untuk perempuan.

Jika ingin mandi, pengunjung tinggal masuk ke bilik sesuai jenis kelamin. Di dalam, ada pancuran dan kolam sedalam sekitar dada orang dewasa (sekitar 120 centimeter).

Pengunjung yang mandi dilarang hanya mengenakan pakaian dalam. Setidaknya bagi pengunjung laki-laki, kenakan celana selutut.

Larangan lain adalah memakai sabun atau bahan deterjen. Jika ingin keramas dan memakai sabun, pengunjung bisa mandi di kamar mandi.

Apabila bilik sedang ramai, pengunjung juga harus mengantre. Pengunjung yang sedang mandi dalam bilik juga tidak boleh berlama-lama saat sedang antre.

Adapun di depan petirtaan, terdapat taman dengan tempat duduk. Ada pula bebatuan candi yang berserakan di timur taman.

Menurut tulisan yang ada di sana, Petirtaan Jolotundo konon merupakan peninggalan Airlangga yang merupakan Raja Kerajaan Kediri.

Namun, ada pula penjelasan lain yang menyatakan bahwa Petirtaan Jolotundo dibangun tahun 977 Masehi atau 50 tahun setelah Empu Sindok memindahkan pusat kerajaan Mataram Kuno dari Jawa Tengah ke Jawa Timur pada 929-947 Masehi.