redaksiharian.com, Makassar – PT Pertamina International Shipping (PIS) memberikan pembaruan terkait kondisi dua kapal tanker Indonesia yang sedang berada di Selat Hormuz, di tengah ketegangan yang masih berlangsung antara Amerika Serikat dan Israel.

PIS tengah mempersiapkan prosedur teknis agar kapal-kapal tersebut dapat melintas dengan aman di selat yang sempat ditutup Iran karena menjadi titik panas konflik. Pjs Corporate Secretary PIS, Vega Pita, menyatakan perusahaan terus melakukan koordinasi erat dengan Kementerian Luar Negeri RI. Saat ini, kapal tanker milik Pertamina, Pride dan Gamsunoro, masih berada di Teluk Arab atau Teluk Persia.

Menurut Vega, keselamatan kru dan awak kapal sejauh ini terpantau aman.
“PIS bersama Kemlu tengah membahas teknis agar kedua kapal, Pertamina Pride dan Gamsunoro, dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman,” ujar Vega dalam keterangan pers, Minggu (29/3).

Dia juga menyampaikan penghargaan kepada Kementerian Luar Negeri RI atas dukungan diplomatik yang diberikan.
“Sejak isu ini muncul, PIS terus melakukan koordinasi intensif dengan pihak Kemlu, yang aktif menjalin komunikasi dengan otoritas terkait. Hingga saat ini, upaya diplomasi masih berjalan,” tambah Vega.

Perusahaan menekankan bahwa prioritas utama adalah keselamatan awak kapal, keamanan kapal, dan muatan yang diangkut. Vega juga meminta doa dan dukungan masyarakat Indonesia agar proses pelintasan dapat berjalan lancar.

Sebelumnya, Kemlu RI mengonfirmasi bahwa Iran sudah memberikan sinyal positif untuk memungkinkan dua kapal Pertamina melintas.
“Berdasarkan koordinasi antara Kemlu, KBRI Tehran, Pertamina, dan otoritas Iran, Kedutaan Iran menyampaikan pertimbangan positif Pemerintah Iran terkait keamanan pelintasan kapal Pertamina di Selat Hormuz,” kata juru bicara Kemlu RI, Yvonne Mewengkang, Sabtu (28/3).

Dia memastikan Kemlu RI dan KBRI Tehran akan terus berkoordinasi dengan semua pihak terkait untuk memastikan pelintasan kapal berjalan aman.

Selat Hormuz hampir sepenuhnya ditutup oleh Iran sejak serangan awal Amerika dan Israel terhadap negara tersebut pada 28 Februari lalu. Penutupan jalur strategis ini berdampak signifikan terhadap pasar energi global, sehingga ratusan kapal tanker dan kapal lainnya, termasuk kapal Indonesia, sempat terjebak di perairan tersebut.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan minyak paling vital di dunia, dengan sekitar 20 persen distribusi minyak global melewati selat ini.