RedaksiHarian – Presiden Joko Widodo ( Jokowi ) mendorong sistem kerja hibrida WFO (Work From Ofice)- WFH (Work From Home) bagi perkantoran di Jabodetabek untuk mengatasi polusi udara mencekik di DKI Jakarta. Hal itu merupakan opsi cepat pemerintah dalam menangani kualitas udara Jakarta yang buruk selama sepekan terakhir.

Solusi dari Jokowi itu langsung dikritik oleh pengamat kebijakan publik dari Universitas Trisakti Trubus Rahadiansyah . Menurutnya penerapan sistem kerja hibrida bukanlah solusi untuk mengatasi polusi udara mencekik di Jakarta.

Menurut Trubus, solusi WFH saat ini bak obat yang tiba-tiba langsung menyembuhkan suatu masalah. Trubus mendesak penerapan WFH bukan sekadar wacana pemerintah semata, namun harus dibarengi dengan evaluasi dan kesinambungan.

ADVERTISEMENT

“Mengenai polusi ini konteks jangka pendeknya bukan WFH ,” ujar Trubus pada Senin, 14 Agustus 2023.

Perlu adanya kompensasi dan konsekuensi jika ada pelanggaran yang dilakukan selama WFH berlangsung. Trubus menilai hal itu perlu dilakukan pemerintah dengan merangkul semua pihak, termasuk swasta.

Pengamat kebijakan publik tersebut menilai jalan yang bisa diambil pemerintah untuk mengatasi polusi udara di Jakarta adalah dengan mengoptimalkan uji emisi sesuai dengan Peraturan Gubernur Nomor 66 Tahun 2020 mengenai Uji Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor.

Trubus mengatakan uji emisi belum dilakukan secara sungguh-sungguh saat ini. Jika akan diterapkan, pemerintah harus berhadapan dengan banyak pelaku usaha, terutama di bidang otomotif.

“Terapkan uji emisi. Kalau bisa, keluarkan kebijakan pembatasan usia kendaraan. Akan tetapi, itu juga butuh keberanian karena musuhnya pelaku usaha mobil, mobil bekas sama motor bekas,” kata Trubus menambahkan.

Menurut Trubus, penerapan uji emisi di wilayah DKI Jakarta kurang optimal karena keterbatasan anggaran dan kurangnya edukasi masyarakat. Selain itu, penerapan uji emisi merupakan solusi jangka pendek, dan sisanya bergantung pada cuaca.

Berdasarkan pantauan Pikiran-Rakyat.com dari laman pemantau kualitas udara IQAir, indeks kualitas udara di Jakarta berada di urutan ketiga dengan angka 183 dan masuk kategori tidak sehat. Di urutan pertama ditempati oleh Terentang, Kalimantan Barat dengan indeks kualitas udara mencapai 252 dan masuk kategori sangat tidak sehat.

Urutan ketiga ada Tangerang Selatan, Banten dengan indeks kualitas udara mencapai 209, yang masuk kategori sangat tidak sehat. Indeks kualitas udara di Pontianak, Surabaya, Tangerang, Bandung, dan Kabupaten Serang masuk dalam kategori tidak sehat.

Pemicu kualitas udara buruk di wilayah Jabodetabek disebut karena adanya kemarau panjang. Selain itu, Jokowi juga menyinggung adanya penggunaan sumber energi dari batu bara yang memperburuk polusi udara.

“Kemarau panjang selama tiga bulan terakhir yang menyebabkan peningkatan konsentrasi polutan tinggi serta pembuangan emisi dari transportasi dan juga aktivitas industri di Jabodetabek terutama yang menggunakan batu bara di sektor industri manufaktur,” ujar Jokowi pada 14 Agustus 2023.***