
RedaksiHarian – Komandan Paspampres , Mayjen Rafael Granada Baay memastikan, pihaknya akan bersikap transparan dalam menangani kasus dugaan penculikan dan penganiayaan yang dilakukan oleh salah satu anggotanya hingga menyebabkan salah seorang pria tewas.
Rafael menyebut, saat ini terduga pelaku berinisial Praka RM sudah diamankan untuk dimintai keterangan.
Praka RM dibawa ke Polisi Militer Kodam Jayakarta (Pomdam Jaya) pasca beredarnya kabar pembunuhan terhadap pria asal Aceh bernama Imam Masykur (25).
ADVERTISEMENT
“Terduga saat ini sudah ditahan di Pomdam Jaya untuk diambil keterangan dan kepentingan penyelidikan,” tuturnya.
Ke depannya, Pomdam Jaya akan fokus menyelidiki ada atau tidaknya keterlibatan Praka RM dalam kasus kematian Imam.
“Saat ini pihak berwenang yaitu Pomdam Jaya sedang melaksanakan penyelidikan terhadap dugaan adanya keterlibatan anggota Paspampres dalam tindak pidana penganiayaan ,” ucap dia.
Terkait proses hukum yang tengah dijalani oleh salah satu anggotanya, Danpaspampres berjanji akan menindak yang bersangkutan dengan tegas dan mengedepankan transparansi untuk mengungkap kebenaran.
“Apabila benar-benar terbukti adanya anggota Paspampres melakukan tindak pidana seperti yang disangkakan di atas, akan diproses secara hukum yang berlaku tegas, dan transparan,” ucap dia.
Sebelumnya diberitakan, salah satu oknum anggota Paspampres berinisial Praka RM diduga menculik pedagang kosmetik asal Monkeulayu, Kecamatan Gandapura, Bireuen, Aceh .
Korban diketahui kerap berjualan di kawasan Rempoa Ciputat Timur, Tangerang Selatan. Berdasarkan keterangan keluarga, korban yang disebut bernama Imam Masykur (25), sempat dibawa pergi oleh pelaku pada 12 Agustus 2023 lalu.
Tak lama dari kejadian, Imam menelepon pada keluarganya dan mengaku telah dianiaya oleh pelaku.
Korban juga meminta keluarganya untuk mencarikan uang sebesar Rp50 juta sebagai tebusan yang diajukan oknum, sebagai ‘harga’ dari kebebasannya.
Bersamaan dengan desakan tersebut, pelaku diduga mengancam akan membunuh Imam jika pihak keluarga tidak dapat menyetorkan uang tebusan sejumlah yang diminta.
Setelahnya, keluarga mengaku kesulitan menghubungi Imam hingga akhirnya berita penyerahan mayat dari RSPAD Jakarta Pusat pun diterima.***