RedaksiHarian – Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden, Ali Mochtar Ngabalin , meminta agar masyarakat tetap solid untuk menyambut Pemilu 2024 dengan damai. Dia pun mengajak masyarakat supaya lebih jeli dan tidak termakan berita hoaks .

“Pemilu nanti harus damai tanpa adanya ujaran kebencian, berita bohong hingga fitnah-memfitnah di media sosial, jangan sampai terpecah belah,” kata Ali Ngabalin dalam keterangannya pada Jumat, 23 Agustus 2023.

Dalam acara Program KSP Mendengar di Kendari, Sulawesi Tenggara, Ngabalin menyambut 150 orang hadirin yang mewakili beberapa organisasi masyarakat.

ADVERTISEMENT

Menurut Ngabalin, KSP hadir untuk membantu menjembatani persoalan yang dikeluhkan masyarakat. Dia mengatakan, penguatan sumber daya manusia (SDM) sangat berperan penting dalam mencapai visi Indonesia Emas 2045.

“Dalam menampung keluhan, kritik, dan saran masyarakat terdapat sistem dan mekanismenya. Nanti ada semacam usulan kecil dari masyarakat untuk kita segera sampaikan ke deputi-deputi terkait di Kantor Staf Presiden,” ucapnya.

Anak muda harus punya benteng diri untuk menolak hasutan dari buzzer di media sosial menjelang tahun politik pada 2024. Karena tidak jarang, sebagian buzzer bisa menggiring opini publik ke arah yang buruk.

“Kita harus bijak dalam bermain di media sosial tidak telan mentah-mentah apalagi dengan langsung menyebarkan pesan mereka yang mengagitasi,” kata Ketua MPR Bambang Soesatyo dalam Seminar Nasional di Munas Sapma Pemuda Pancasila, Bandung, Kamis, 24 Agustus 2023, dikutip dari Antara.

Buzzer, diakui Bamsoet, memang cukup meresahkan dan sangat menentukan dalam mempengaruhi opini publik, di mana yang terakhir teras saat Pilpres 2019.

Menurut Bamsoet, meskipun buruk, buzzer hanya berperan sebagian, sementara sebagian lainnya adalah peran masyarakat sendiri yang mudah percaya ketika baru membaca sebatas judul dan langsung menyebarkan pesan-pesan agitatif para buzzer yang bisa memiliki sampai ratusan akun tersebut.

“Nah itu juga kita punya andil untuk menghidupi para buzzer ini, coba kalau kita ketika terima broadcast mereka yang mengagitasi kita diamkan saja atau kita delete enggak akan hidup mereka. Kita jangan mau diadu domba itu saja kuncinya,” katanya.Dengan kita terlalu polos dalam menyikapi pesan-pesan bernuansa agitatif dari para buzzer yang “dipelihara” oleh mereka yang berkontestasi dalam politik, kata Bamsoet, sama saja dengan menghidupi mereka.”Jadi bijaknya kita dalam bersedia sosial jangan langsung menyebarkan, itu akan menghambat dan menghentikan mereka nantinya,” katanya.

Negara sendiri, kata Bamsoet, telah mengeluarkan aturan yang juga sebagai langkah pencegahan aktivitas hasutan termasuk dari para buzzer, yakni Undang-Undang Informasi Transaksi Elektronik (ITE).***