redaksiharian.com, Medan – NASA mengumumkan pergeseran fokus misi antariksa mereka ke Mars menyiapkan wahana baru yang menggunakan tenaga nuklir.

Administrator NASA, Jared Isaacman, mengungkapkan dalam sebuah acara di Washington D.C. bahwa misi Mars terbaru ini, dijadwalkan diluncurkan pada 2028, akan menggunakan kendaraan propulsi listrik nuklir yang sepenuhnya baru. Misi tersebut diberi nama Space Reactor-1 Freedom atau SR-1 Freedom dan akan menjadi misi pertama NASA yang memanfaatkan teknologi propulsi listrik nuklir di luar angkasa.

Isaacman menekankan bahwa teknologi ini menawarkan efisiensi tinggi, cocok untuk misi jarak jauh ke ruang angkasa, meskipun menghadirkan tantangan desain dan biaya yang signifikan, serta risiko terkait peluncuran sistem nuklir, termasuk potensi paparan radiasi.

Selain meluncurkan wahana bertenaga nuklir, SR-1 Freedom akan melanjutkan tujuan misi yang sebelumnya direncanakan dalam proyek bernama Skyfall. Salah satu fokusnya adalah menurunkan helikopter di permukaan Mars, mirip dengan wahana Ingenuity, yang sebelumnya berhasil melakukan penerbangan terkendali di Mars.

Hasil misi SR-1 Freedom juga akan menjadi fondasi bagi rencana NASA membangun reaktor fusi di permukaan Bulan, yang dapat menyediakan listrik sepanjang hari untuk pangkalan bulan. Badan antariksa ini sebelumnya menargetkan peluncuran reaktor tersebut pada 2030.

Steven Sinacore, pejabat eksekutif program NASA untuk Fission Surface Power dan SR-1 Freedom, mengatakan bahwa pihaknya akan meningkatkan edukasi publik terkait teknologi ini untuk meredakan kekhawatiran. Menurut Sinacore, reaktor tetap aman karena hanya akan aktif di luar angkasa, sementara di permukaan bumi dalam keadaan mati tanpa radiasi yang keluar.

Selain itu, Isaacman menyinggung bahwa pembangunan stasiun luar angkasa di Bulan akan ditunda. NASA sebelumnya merencanakan stasiun tersebut untuk menggantikan International Space Station setelah pensiun pada 2031. Pangkalan Bulan dan stasiun Gateway, yang dirancang sebagai titik persinggahan untuk misi ke permukaan Bulan dan perjalanan antariksa lebih jauh, akan menyesuaikan jadwal agar sumber daya yang ada dapat dimanfaatkan secara optimal.

NASA juga berencana meningkatkan frekuensi pendaratan robotik di Bulan, dengan target agar pendaratan berlangsung setiap bulan untuk mengirimkan muatan dan instrumen ilmiah secara rutin.