redaksiharian.com, Jakarta – Anggapan bahwa MSG atau monosodium glutamate berbahaya bagi kesehatan, bahkan disebut dapat menurunkan kecerdasan otak, telah lama beredar luas di masyarakat. Namun, di balik persepsi tersebut, terdapat fakta bahwa sebagian narasi negatif tentang MSG tidak hanya lemah secara ilmiah, tetapi juga berkaitan dengan sejarah stigma dan bias rasial.

Salah satu istilah yang kerap dikaitkan dengan MSG adalah Chinese Restaurant Syndrome. Istilah ini bukan sepenuhnya lahir dari penelitian ilmiah yang kuat, melainkan juga dipengaruhi oleh stereotip terhadap budaya tertentu.

Menurut laporan BBC, istilah tersebut pertama kali muncul dari sebuah surat pembaca yang diterbitkan dalam jurnal New England Journal of Medicine pada tahun 1968. Penulisnya mengaku mengalami gejala seperti pusing dan lemas setelah mengonsumsi makanan di restoran China. Namun, klaim tersebut tidak pernah terbukti secara ilmiah dan kini banyak dianggap sebagai informasi yang tidak akurat.

Meski demikian, istilah tersebut sempat digunakan selama bertahun-tahun, bahkan pernah dimasukkan dalam definisi kamus Merriam-Webster. Definisi itu kemudian menuai kritik karena dianggap tidak tepat dan mengandung bias terhadap kelompok tertentu.

Dari sisi ilmiah, MSG sebenarnya merupakan bahan penyedap yang aman digunakan. Kandungan glutamat di dalamnya juga secara alami ditemukan dalam berbagai makanan seperti tomat, keju, jamur, hingga air susu ibu. Zat ini berperan dalam menghasilkan rasa umami, salah satu dari lima rasa dasar yang dikenal manusia.

Berbagai penelitian modern menunjukkan bahwa MSG tidak terbukti menyebabkan gangguan kesehatan seperti yang selama ini dituduhkan. Bahkan, Food and Drug Administration telah lama menyatakan bahwa MSG aman untuk dikonsumsi dalam batas wajar. Tinjauan ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal Food Science and Food Safety pada tahun 2019 juga menyimpulkan bahwa klaim mengenai dampak negatif MSG tidak memiliki bukti kuat.

Lalu, mengapa ketakutan terhadap MSG masih bertahan?

Kajian dari University of Toronto menunjukkan bahwa persepsi negatif ini tidak lepas dari konteks sejarah dan sosial, terutama diskriminasi terhadap komunitas Asia di negara-negara Barat. Pada masa lalu, imigran China sering dipandang berbeda, bahkan inferior, sehingga makanan mereka pun kerap dianggap tidak sehat atau berbahaya.

Istilah Chinese Restaurant Syndrome kemudian memperkuat stereotip tersebut, seolah-olah makanan Asia lebih berisiko dibandingkan makanan lainnya. Padahal, MSG digunakan secara luas di berbagai jenis makanan di seluruh dunia.

Fenomena ini dikenal sebagai othering, yaitu kecenderungan untuk memandang kelompok lain sebagai berbeda atau tidak setara.

Selain itu, mitos bahwa MSG dapat merusak kecerdasan otak juga tidak didukung oleh bukti ilmiah yang kuat, terutama dalam konteks konsumsi normal. Sebaliknya, glutamat merupakan zat alami dalam tubuh yang berperan penting dalam berbagai fungsi biologis.

Meski ada individu yang mungkin sensitif terhadap makanan tertentu, para ahli menegaskan bahwa tidak ada bukti konsisten yang menunjukkan MSG sebagai penyebab utama gangguan kesehatan. Oleh karena itu, menjaga pola makan seimbang secara keseluruhan jauh lebih penting dibandingkan menghindari satu bahan berdasarkan anggapan yang belum terbukti.