
RedaksiHarian – Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan (Jaksel) akan menggelar sidang tuntutan kasus penganiayaan berat terhadap David Ozora dengan terdakwa Mario Dandy Satriyo dan Shane Lukas, pada hari ini Selasa, 15 Agustus 2023.
Pejabat Humas PN Jakarta Selatan Djuyamto telah mengonfirmasi agenda sidang tuntutan terhadap Mario Dandy dan Shane.
Sebelumnya, pembacaan tuntutan untuk dua terdakwa tersebut batal digelar lantaran jaksa penuntut umum (JPU) belum siap.
ADVERTISEMENT
“Pada hari Selasa tanggal 15 Agustus akan kembali digelar sidang dengan agenda pembacaan tuntutan pidana yang mana pada Selasa minggu yang lalu ditunda,” kata Djuyamto dalam keterangan yang diterima Pikiran-Rakyat.com Selasa, 15 Agustus 2023.
Ayah David Ozora, Jonathan Latumahina, membuat surat terbuka yang ditujukan untuk Jaksa Agung ST Burhanuddin. Dia meminta agar jaksa menuntut terdakwa Mario Dandy dengan hukuman maksimal sekaligus mencabut hak remisi terdakwa.
“Bapak Jaksa Agung yang terhormat, perkenalkan saya Jonathan Latumahina, ayah dari David Ozora yang menjadi korban penganiayaan brutal dan sadis oleh Mario Dandy dan kawan-kawan,” kata Jonathan dalam surat terbuka sebagaimana dikutip Pikiran-Rakyat.com pada Selasa, 15 Agustus 2023.
“Saya berasal dari keluarga sederhana sebagaimana kebanyakan rakyat pada umumnya,” ucap dia menambahkan.
Jonathan kembali menceritakan peristiwa penganiayaan yang dialami David. Dia mengungkapkan putranya koma setelah dianiaya oleh Mario.
“Tanggal 20 Februari 2023 adalah hari kelabu bagi keluarga kami, hari dimana dengan bangga dan pongah Mario Dandy menganiaya David Ozora hingga harus terbaring 3 hari di RS Permata Hijau dan 53 hari di ICU RS Mayapada,” tuturnya.
Jonathan menuturkan David harus dirawat intensif di Rumah Sakit Mayapada, Jakarta Selatan, karena mengalami koma dan menderita Suspect Diffuse Axonal Injury (DAI) atau trauma berat pada otak.
“Yang disebabkan berputarnya posisi otak karena jutaan syaraf axon terputus, sehingga tidak ada aliran listrik dan menyebabkan David mengalami koma,” ucap Jonathan.
Dikatakan Jonathan, dokter Rumah Sakit Mayapada menyebut bahwa David hanya memiliki GCS 3 dari seharusnya 15 untuk manusia normal.
Dia menjelaskan, Glasgow Coma Scale (GCS) adalah sebuah skala yang dipakai untuk mengetahui tingkat kesadaran, untuk manusia sadar atau normal scala GCS-nya adalah 15, yakni respons penglihatan 5, respons pendengaran 5 dan respons gerak 5. Sedangkan David masing-masing respons skalanya 1 yang berarti respon atau skala terendah (no respons).
“Untuk bisa pulih sebagaimana kondisi semula hampir mustahil menurut kesimpulan dokter. David akan menderita cacat permanen,” kata Jonathan.
Jonathan mengaku perasaannya bercampur aduk ketika mengetahui kondisi David. Dia bersyukur dikelilingi orang-orang yang selalu memberikan dukungan di saat menghadapi situasi yang getir.
“Mendengar dan menghadapi situasi demikian, orang tua mana yang kuat dan sabar? Hati saya bergejolak ingin meluapkan kemarahan, kekesalan, kekecewaan dan kesedihan. Hampir saja saya mengambil jalan pintas untuk meluapkannya,” ucap Jonathan.
“Syukurlah ada banyak orang yang memberikan dukungan dan nasihat hingga amalan doa untuk menenangkan saya sampai akhirnya saya mengurungkan niat dan mulai menyerahkan urusan ini kepada penegak hukum,” ujar dia menambahkan.***