redaksiharian.com, Jakarta – Presiden Emmanuel Macron menyerukan agar negara-negara di dunia tidak menjadi terlalu tergantung pada dua kekuatan besar, yakni Amerika Serikat dan China. Pernyataan ini disampaikan saat kunjungan resminya ke Korea Selatan pada Jumat (3/4).
“Saya percaya tujuan kita bukan menjadi bawahan dua kekuatan hegemonik ini. Kita tidak ingin terlalu bergantung pada dominasi China, juga tidak ingin terpapar ketidakpastian dari AS,” ujar Macron saat berdiskusi dengan mahasiswa di Yonsei University, dikutip dari TASS.
Macron mengajak negara-negara lain untuk bekerja sama membentuk koalisi yang lebih mandiri, tanpa sepenuhnya tunduk atau bergantung pada AS maupun China. Ia menyebut kemungkinan jalur alternatif ini bisa dibangun bersama Korea Selatan, Prancis, negara-negara Eropa, serta Kanada, Jepang, India, Brasil, dan Australia.
Selain itu, Macron menyoroti bahwa beberapa negara besar, termasuk AS, mulai menunjukkan perilaku yang dapat mengancam stabilitas tatanan internasional.
Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan antara Macron dan Presiden Donald Trump terkait perang antara AS-Israel dan Iran, serta isu NATO. Perselisihan terjadi setelah Prancis menolak mendukung AS dan Israel dalam konflik dengan Iran, termasuk menolak penggunaan pangkalan udara Prancis oleh militer AS.
“Saya tidak yakin masalah ini bisa diselesaikan hanya dengan pengeboman atau operasi militer,” kata Macron kala itu.
Lebih lanjut, Prancis dilaporkan ikut bergabung dengan Rusia dan China dalam menolak resolusi Dewan Keamanan PBB yang memberi izin operasi militer untuk membuka Selat Hormuz.