redaksiharian.com, Jakarta – Seorang prajurit Prancis dilaporkan meninggal dunia dan tiga anggota lainnya mengalami luka-luka saat menjalankan misi penjaga perdamaian UNIFIL di wilayah Lebanon selatan. Insiden tersebut terjadi ketika pasukan tengah melakukan operasi pembukaan akses jalan di area konflik.
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengecam keras serangan tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan yang tidak dapat dibenarkan. Pernyataan itu disampaikan melalui kantor kepresidenan usai Macron melakukan komunikasi dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun serta Perdana Menteri Nawaf Salam.
Selain korban jiwa, tiga personel UNIFIL lainnya juga mengalami cedera, dua di antaranya dalam kondisi serius. Berdasarkan hasil penilaian awal UNIFIL, serangan diduga berasal dari kelompok bersenjata non-negara yang diyakini terkait dengan Hizbullah.
UNIFIL menyebut insiden tersebut sebagai serangan yang diduga dilakukan secara sengaja. Macron sendiri menyatakan bahwa bukti sementara mengarah pada kelompok bersenjata yang memiliki keterkaitan dengan Iran, sehingga ia meminta pemerintah Lebanon untuk segera mengambil tindakan terhadap pihak yang bertanggung jawab.
Di tingkat internasional, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres turut mengecam kejadian tersebut dan menyerukan semua pihak untuk menghormati gencatan senjata serta menghentikan eskalasi konflik di wilayah tersebut.
Namun, Hizbullah membantah keterlibatan mereka dalam serangan tersebut. Kelompok itu menyatakan terkejut atas tuduhan yang dinilai terburu-buru dan tidak didukung bukti yang jelas.
Menteri Angkatan Bersenjata Prancis, Catherine Vautrin, menjelaskan bahwa patroli UNIFIL saat itu sedang menjalankan misi untuk membuka jalur menuju pos yang sebelumnya terisolasi akibat pertempuran di wilayah sekitar.
Prajurit yang meninggal dilaporkan terkena tembakan senjata ringan langsung di lokasi kejadian, yang terjadi di desa Ghandouriyeh, Lebanon selatan. UNIFIL menegaskan bahwa insiden tersebut sedang diselidiki lebih lanjut.
Militer Lebanon juga mengecam serangan tersebut dan telah membuka investigasi resmi. Presiden Aoun menyampaikan belasungkawa serta memerintahkan penyelidikan segera, sementara Perdana Menteri Salam turut mengutuk keras peristiwa itu.
UNIFIL sendiri telah dikerahkan sejak 1978 dan terus bertugas di wilayah konflik tersebut selama berbagai eskalasi, termasuk pada konflik tahun 2024 ketika pos-pos mereka beberapa kali menjadi sasaran serangan.