redaksiharian.com – Talenta di bidang keamanan siber atau cybersecurity tak hanya jadi rebutan di Indonesia. Hal itu karena kurangnya pasokan talenta keamanan siber di Indonesia, sehingga merupakan tantangan untuk merekrut orang dengan kemampuan yang mumpuni.

Kurangnya talenta keamanan siber ini bukan situasi yang hanya terjadi di Indonesia. Menurut CEO & Co-Founder Horangi Paul Hadjy, kekurangan profesional pada industri keamanan siber terjadi di seluruh dunia.

“Namun, ini bukan situasi yang unik di Indonesia, ada kekurangan profesional keamanan siber di seluruh dunia secara umum,” kata Paul kepada CNBC Indonesia, Senin (24/10/2022).

Di Australia, misalnya, talenta keamanan siber juga masih sulit dicari. Pemerintah Australia, menurut ABC, kekurangan tenaga kerja keamanan siber di seluruh bidang industri.

Perusahaan cybersecurity, CyberCX, melaporkan bahwa selama empat tahun ke depan mereka kekurangan profesional keamanan siber, yang diperkirakan mencapai hingga 30.000 posisi kosong di seluruh Australia.

Berdasarkan data Glints, jumlah lowongan terkait keamanan siber sepanjang Januari-Agustus 2022 di Indonesia dan Singapura sudah melampaui jumlah lowongan yang dibuka dalam 12 bulan pada 2021.

Suplai talenta keamanan siber juga meningkat. Di Indonesia, pelamar pekerjaan terkait keamanan siber di Indonesia naik dua kali lipat (134%) dibandingkan tahun sebelumnya.

Bicara soal kurangnya talenta keamanan siber di Indonesia, dapat dikaitkan dengan dua faktor utama. Pertama karena kurangnya institusi pendidikan tinggi yang menawarkan kursus atau gelar keamanan siber.

Kedua, rendahnya kesadaran akan keamanan siber secara umum, meskipun Hadjy yakin ini tidak akan menjadi masalah dalam waktu dekat karena pemerintah Indonesia telah mendorong inisiatif kesadaran keamanan siber di tingkat federal dan regional, dan membuat undang-undang baru.

“Misalnya, Undang-Undang Perlindungan Data baru yang dirilis pada awal September 2022 bertujuan untuk membantu meningkatkan kesadaran keamanan siber di Indonesia,” ujar Hadjy.

Selain itu, tidak ada cukup instruktur untuk memenuhi penyediaan kursus dan gelar keamanan siber. Ini bisa berasal dari kurangnya veteran industri yang cukup berpengalaman yang dapat mengajar paruh waktu atau menjadi akademisi penuh waktu.

Ia juga mengatakan bahwa kesadaran akan keamanan di Indonesia secara umum masih rendah. Akibatnya, sebagian besar anak muda tidak menyadari keamanan siber sebagai jalur karir yang layak dan karena itu tidak mengejarnya.

Dan ada kesalahpahaman bahwa pekerjaan keamanan siber adalah karir yang berisiko tinggi, di mana seseorang bisa kehilangan pekerjaan jika pelanggaran atau insiden keamanan siber terjadi di tangan mereka.

“Oleh karena itu, sebagian besar anak muda akan terus memilih karir “lurus” dan “tradisional” di bidang TI seperti programmer, administrator sistem, dan lainnya.” pungkasnya.