
RedaksiHarian – Polusi udara Jakarta dan sekitarnya memburuk beberapa pekan terakhir. Pemerintah sampai menyarankan sistem kerja hibrida bagi pekerja di Jakarta hingga melakukan modifikasi cuaca untuk menangani polusi udara mencekik.
Bukan hanya di siang hari, polusi udara ternyata juga terjadi di malam hari hingga menjelang pagi hari. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG ) menyebut kualitas udara Jakarta lebih buruk dan tidak sehat saat malam hari menjelang pagi.
Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG Fachri Radjab mengungkapkan Partikulat (PM 2,5) atau partikel udara yang lebih kecil dari 2,5 mikron, justru cenderung lebih tinggi di malam hari. Sedangkan menjelang pagi hari seiring aktivitas masyarakat meningkat, PM 2,5 juga meningkat.
ADVERTISEMENT
“Kalau kita lihat siklus harian, PM 2,5 memang dalam siklus harian konsentrasi cenderung lebih tinggi pada malam hari. Malam hari itu relatif lebih tinggi hingga menjelang pagi. Kemudian, di pagi juga seiring dengan meningkatnya aktivitas masyarakat, konsentrasi PM 2,5 juga meningkat,” kata Fachri.
Pada malam hari, kualitas udara di Jakarta memburuk bukan hanya karena asap kendaraan. Lebih dari itu, kualitas udara di Jakarta buruk saat malam hari karena dipengaruhi lapisan inversi yang mengecil sehingga konsentrasi PM 2,5 makin tinggi.
“Polutan ataupun partikel yang menyebabkan polusi itu contributor kenapa cenderung tingginya di malam hari itu karena adanya yang kita sebut lapisan inversi, itu lapisan pembalik,” ujar Fachri menambahkan.
Kondisi tersebut dipicu karena partikel polusi berkumpul hingga terjebak di lapisan inversi. Selain itu, inversi juga menyebabkan langit di Jakarta berwarna keruh abu-abu.
“Kalau kita kenal suhu makin tinggi tempat maka makin dingin suhunya, tapi pada ketinggian tertentu dia akan tetap stabil suhunya, dia tidak turun, itu yang disebut lapisan inversi. Pada lapisan inilah polutan-polutan itu berkumpul. Ketika malam hari, ketebalan lapisan inversi itu mengecil sehingga konsentrasinya akan semakin tinggi,” kata Fachri.
Polusi udara yang memburuk beberapa pekan terakhir ini memicu banyaknya laporan masyarakat mengalami infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Polusi udara mengancam tak hanya orang dewasa namun juga kelompok rentan seperti orangtua, ibu hamil hingga anak-anak.
Pemerintah didesak untuk segera mengatasi polusi udara yang mencekik di Jakarta dan sekitarnya. Pasalnya, polusi udara bukan hanya berasal dari asap kendaraan saja, namun juga aktivitas industri yang melanggar aturan.
Bahkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah menyatakan bahwa polusi disebabkan karena kemarau panjang dan penggunaan sumber energi dari batu bara. Di wilayah Jabodetabek memang ditemui sejumlah industri yang menggunakan batu bara hingga pemicu polusi lainnya.
Per 24 Agustus, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan telah memberikan sanksi kepada 11 industri di Jakarta dan sekitarnya. Puluhan industri yang bergerak di bidang stockpile batu bara hingga arang itu dinilai melanggar aturan dan menjadi pemicu polusi udara .***