RedaksiHarian – Keraton Kasepuhan Cirebon di Jawa Barat melestarikan pelaksanaan tradisi siraman panjang dalam rangkamemperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

“Siraman panjang adalah ritual pencucian piring peninggalan Wali Songo. Tradisi siraman ini dilaksanakan setiap tahun, tepatnya pada 5 Rabiulawal dalam kalender Islam,” kata Patih Sepuh Keraton Kasepuhan Pangeran Raja Gumelar Suryadiningrat di Cirebon, Jumat.

Ia menyampaikan bahwa pada awal pelaksanaan ritual siraman panjang paraabdi dalemberkumpul di Bangsal Pungkuran Keraton Kasepuhan.

Para abdi dalemkeraton selanjutnya satu per satu masuk ke gudang penyimpanan jimat untuk mengambil piring, guci, dan gelas peninggalan Sunan Gunung Jati.

Gumelarmenuturkan bahwa benda-benda yang usianya hampir enam abad tersebutkemudian diletakkan disebuah meja khusus.

Abdi dalemkeraton bersama-sama melantunkan doa dan selawat sebelum barang-barang kuno itu dicuci dan dimasukkan ke tempat penyimpanan untuk kemudian digunakan mewadahi makanan khasCirebon bekasempada pelaksanaan panjang jimat.

Barang peninggalan Sunan Gunung Jati yang “disucikan” dalam siraman panjang, menurut Gumelar, terdiri atas tujuh piring berukuran besar, 38 piring pengiring, dua guci, serta dua tempat untuk menaruh minyak mawar atau melati.

“Benda-benda itu akan digunakan dalam puncak acara memperingati lahirnya Kanjeng Nabi Muhammad SAW,” katanya.

Pada pelaksanaan tradisi siraman panjang, menurutGumelar, warga biasanya mengambil air bekas cucian barang peninggalan Sunan Gunung Jati.

“Mereka ingin mendapatkan keberkahan dari Allah SWT melalui peninggalan ini,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa tradisi siraman panjangmemiliki makna filosofis bahwa manusia harus membersihkan diri secara lahir dan batin menggunakan air yang merupakan sumber dari kehidupan.

Gumelarmenyampaikan bahwa Keraton Kasepuhan Cirebon akan melaksanakan ritual panjang jimat pada puncak acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAWtanggal 12 Rabiulawal 1445 Hijriah, yang jatuh pada 28 September 2023.

Sementara itu, Sekretaris DaerahKota Cirebon Agus Mulyadi menuturkan bahwa masjid kuno serta budaya dan tradisi lokal merupakan bagian dari daya tarik pariwisata di Cirebon.

Menurut dia, keragaman budaya dan tempat-tempat bersejarah di Kota Cirebon membantu mendongkrak kegiatan pariwisata daerah.

“Informasi dari Disbudpar, kunjungan wisata di Kota Cirebon melampaui target dua juta wisatawan. Kita memiliki keunggulan di bidang wisata budaya, kuliner, dan sejarah,” kata Agus.

Agus mengemukakan bahwa Pemerintah Kota Cirebon tengah merancang paket wisata terpadu dan membangun kolaborasi dengan pemerintah kota/kabupaten terdekat untuk meningkatkan kunjungan wisatawan.

“Kita tidak bisa berdiri sendiri, harus berkolaborasi dengan daerah lain untuk menjual paket wisata,” katanya.