
RedaksiHarian – Menteri Luar Negeri Italia yang juga menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri, Antonio Tajani, menyebut bahwa negara-negara Barat telah melakukan kesalahan dengan terlibat dalam penggulingan mantan pemimpin Libya , Muammar Gaddafi , pada 2011 silam.
Tajani menyoroti bahwa dampak dari kudeta disertai pembunuhan ini telah menjadi bumerang, karena kematian Gaddafi justru menyebabkan kekacauan dan konflik yang berkepanjangan di Libya .
Dalam sebuah acara di Tuscany pada pekan ini, Tajani, menyatakan bahwa situasi di Libya saat ini mengalami berbagai masalah yang meruncing sejak penggulingan dan pembunuhan Muammar Gaddafi .
ADVERTISEMENT
Tajani mencatat bahwa dalam retrospeksi, meskipun Gaddafi tidak dianggap sebagai tokoh yang mempromosikan demokrasi, hasil dari tindakan mengakhiri pemerintahannya telah membawa dampak negatif yang lebih besar dibandingkan pemimpin-pemimpin yang menggantikannya di Libya .
Tajani menganggap sebagai kesalahan serius bahwa Gaddafi dibunuh, dan meskipun dia mungkin bukan penganut demokrasi, setelah masa pemerintahannya berakhir, Libya malah terjatuh ke dalam lingkaran ketidakstabilan politik yang memengaruhi tidak hanya negara itu sendiri, tetapi juga kawasan Afrika secara keseluruhan.
Pada masa itu, Italia diketahui masih menjalin perjanjian dengan Gaddafi untuk mengendalikan aliran migrasi, dan situasinya berada dalam kendali yang lebih baik.
Sebelumnya, Gaddafi tewas oleh sekelompok pemberontak dalam konteks kampanye pengeboman yang dilakukan oleh NATO, selama perang saudara di Libya pada 2011.
Pemerintahan Gaddafi akhirnya digulingkan, dan ia sempat melarikan diri ke kota kelahirannya di Surt.
Akan tetapi, di sana, ia ditangkap dan kemudian tewas oleh militan dari kelompok oposisi pada 20 Oktober 2011.
Meskipun Amerika Serikat dan sekutunya menggambarkan intervensi tersebut sebagai upaya kemanusiaan untuk melindungi warga sipil dari serangan oleh pemerintah Libya , tapi investigasi yang dilakukan oleh UK House of Commons kemudian mengungkapkan bahwa ancaman terhadap warga sipil kemungkinan dibesar-besarkan.
Setelah penggulingan Gaddafi, Libya kini mengalami kekacauan sebagai hasil dari persaingan berbagai kelompok yang berambisi menduduki posisi puncak pemerintahan.
Setiap fraksi di Libya mengeklaim legalitasnya dalam memimpin negara. Konflik internal ini terus berlanjut bertahun-tahun setelah kematian Gaddafi, dan akhirnya mereda ketika mereka akhirnya bersatu di bawah dua kubu yang diakui oleh PBB, yaitu Pemerintah Kesepakatan Nasional dan Dewan Perwakilan Libya .
Dua kelompok ini melibatkan fraksi yang setia kepada Gaddafi yang dipimpin oleh Khalifa Haftar, dan Dewan Perwakilan Libya .***