redaksiharian.com, Jakarta – Militer Iran menyatakan bahwa situasi di Selat Hormuz tidak akan kembali seperti kondisi sebelumnya, seiring meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Pernyataan ini disampaikan oleh juru bicara Markas Pusat Khatam Al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, pada Rabu (25/3).
Zolfaghari menegaskan bahwa Teheran tetap memiliki kontrol penuh terhadap akses pelayaran di jalur maritim strategis tersebut. “Situasi di selat itu tidak akan kembali seperti dulu,” ujarnya, sebagaimana dikutip oleh Middle East Monitor. Ia menambahkan bahwa izin pelayaran di perairan ini akan sepenuhnya ditentukan oleh pihak Iran.
Lebih lanjut, Zolfaghari menyampaikan bahwa “api di bawah harga minyak telah dinyalakan, dan kendali berada di tangan kami,” menekankan peran Iran dalam menjaga stabilitas pasar energi global dari sisi strategis. Pernyataan ini muncul di tengah kekhawatiran internasional mengenai kemungkinan gangguan pasokan minyak akibat meningkatnya konflik di kawasan.
Juru bicara militer tersebut juga menekankan bahwa kekuatan nasional Iran terus bertambah. Ia menyebutkan bahwa ketahanan rakyat dan kemampuan angkatan bersenjata negara itu terus meningkat seiring waktu, sementara lawan-lawan mereka semakin menunjukkan tanda-tanda tekanan dan kelemahan.
Sejak 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel dilaporkan melakukan serangan udara terhadap Iran, yang menurut laporan menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk figur penting dalam kepemimpinan negara. Iran kemudian membalas serangan ini dengan meluncurkan drone dan rudal ke Israel serta ke negara-negara tetangga yang menampung aset militer AS, termasuk Yordania, Irak, dan beberapa negara Teluk.
Serangkaian serangan ini menimbulkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, dan gangguan signifikan pada pasar energi dan sektor penerbangan internasional. Pernyataan Iran menegaskan posisinya sebagai pengendali jalur strategis Selat Hormuz, yang menjadi salah satu titik krusial dalam perdagangan minyak global.