redaksiharian.com, Jakarta – Pemerintah Iran melalui Konsulat Jenderalnya di Hyderabad, India melontarkan sindiran terhadap kebijakan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait upaya pemblokiran jalur perdagangan minyak global di Selat Hormuz.
Melalui akun resmi media sosial mereka, pihak Konjen Iran menyamakan langkah tersebut dengan fitur blokir di media sosial. Mereka menyindir bahwa Selat Hormuz bukanlah platform digital tempat seseorang bisa dengan mudah saling memblokir pihak lain.
Unggahan tersebut menjadi bagian dari pola komunikasi diplomatik Iran yang belakangan kerap menyampaikan kritik bernada satire terhadap AS dan sekutunya, termasuk Israel, di tengah meningkatnya ketegangan.
Sebelumnya, Trump mengumumkan kebijakan blokade di Selat Hormuz setelah perundingan antara AS dan Iran yang berlangsung di Pakistan tidak mencapai kesepakatan. Ia juga mengeluarkan peringatan keras terhadap kapal-kapal milik Iran, termasuk ancaman tindakan militer terhadap kapal cepat yang mendekati area blokade.
Menurut pernyataan Trump, operasi tersebut mulai diberlakukan pada Senin pagi waktu setempat. Ia bahkan menegaskan bahwa kapal yang mencoba mendekat akan ditindak tegas menggunakan sistem militer yang sebelumnya dipakai dalam operasi pemberantasan kejahatan di laut.
Meski demikian, laporan menunjukkan bahwa aktivitas pelayaran di kawasan tersebut belum sepenuhnya terhenti. Sejumlah kapal tanker yang berkaitan dengan Iran masih terpantau melintasi jalur tersebut.
Data pelayaran mencatat adanya kapal tanker yang memasuki kawasan Teluk melalui Selat Hormuz pada Selasa siang. Salah satunya adalah kapal berbendera Panama bernama Peace Gulf yang diketahui sedang menuju pelabuhan di Uni Emirat Arab.
Selain itu, dua kapal tanker lain yang juga masuk dalam daftar sanksi AS dilaporkan tetap dapat melewati jalur tersebut, yang merupakan salah satu rute vital bagi distribusi minyak dunia.
Ketiga kapal tersebut diduga tidak mengarah ke pelabuhan Iran, sehingga tidak termasuk dalam cakupan langsung kebijakan blokade yang diberlakukan AS.
Sementara itu, berdasarkan data pelayaran lainnya, sebuah kapal tanker bernama Murlikishan dilaporkan akan menuju Irak untuk mengangkut bahan bakar minyak. Kapal ini sebelumnya diketahui pernah beroperasi dengan nama berbeda dan terlibat dalam pengangkutan minyak dari Rusia serta Iran.
Di sisi lain, kapal tanker Rich Starry tercatat sebagai salah satu kapal pertama yang berhasil keluar dari kawasan Teluk sejak kebijakan blokade mulai diterapkan.