redaksiharian.com, Jakarta – Jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz menunjukkan peningkatan di tengah pembatasan yang diberlakukan akibat ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Berdasarkan data dari perusahaan intelijen maritim Windward, tercatat ada 16 kapal yang melintas pada Rabu (1/4). Angka ini mencerminkan kenaikan selama tiga hari berturut-turut.
Kapal-kapal tersebut diketahui melewati jalur di sekitar Pulau Larak. Windward menilai peningkatan ini menjadi indikasi bahwa semakin banyak negara menjalin komunikasi dengan Iran untuk memperoleh izin melintas.
Meski begitu, tingkat lalu lintas kapal masih jauh di bawah kondisi normal. Sebelum konflik memanas pada 28 Februari, jumlah kapal yang melintas bisa mencapai sekitar 130 unit per hari, menurut data dari United Nations Conference on Trade and Development.
Dalam laporannya, Windward menyebut bahwa tren ini mengarah pada potensi peningkatan jumlah kapal dalam beberapa hari ke depan, seiring bertambahnya negara yang mendapatkan akses.
Di tengah situasi tersebut, Iran diketahui memberikan izin terbatas kepada sejumlah negara untuk tetap menggunakan jalur strategis ini. Kebijakan tersebut memungkinkan kapal-kapal tertentu tetap beroperasi di Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting bagi distribusi sekitar 20 persen minyak dan gas dunia.
Langkah ini dinilai sebagai bentuk “blokade selektif”, di mana Iran tetap membatasi akses, namun memberi kelonggaran kepada negara-negara yang memiliki hubungan baik atau kepentingan tertentu.
Windward menjelaskan bahwa mekanisme ini memungkinkan negara mitra atau sekutu Iran untuk tetap melakukan pelayaran melalui rute yang telah ditentukan.
Beberapa negara yang dilaporkan telah memperoleh izin melintas antara lain Pakistan, India, Turki, China, Spanyol, Rusia, Irak, Bangladesh, Malaysia, serta Indonesia.
Kapal tanker berbendera Pakistan dilaporkan berhasil keluar dari kawasan Teluk melalui jalur yang disetujui. Sementara itu, kapal LPG milik India dapat melanjutkan perjalanan setelah adanya komunikasi bilateral dengan Iran.
Turki juga mendapatkan izin langsung dari otoritas Iran, sedangkan China tetap dijamin aksesnya meskipun sempat mengalami penundaan keberangkatan.
Dari kawasan Eropa, Spanyol termasuk negara yang memperoleh sinyal positif untuk melintas, dengan mempertimbangkan kepatuhan terhadap hukum internasional.
Selain itu, Rusia, Irak, dan Bangladesh juga disebut telah mendapatkan jalur aman. Malaysia bahkan memperoleh izin tanpa dikenakan biaya tambahan.
Duta Besar Iran untuk Malaysia, Mohammadi Valiollah Nasrabadi, menegaskan bahwa tidak ada biaya yang dibebankan untuk akses tersebut. Menteri Transportasi Malaysia, Anthony Loke, menambahkan bahwa hubungan baik antara kedua negara menjadi faktor penting dalam kebijakan ini.
Untuk Indonesia, Iran juga disebut telah memberikan persetujuan, meskipun masih menunggu kesiapan teknis dari pihak terkait. Juru bicara Kementerian Luar Negeri RI, Vahd Nabyl, menyampaikan adanya respons positif dari Iran terkait keamanan kapal milik Pertamina Group.
Di sisi lain, Iran menegaskan bahwa kapal dari Amerika Serikat, Israel, serta negara-negara yang dianggap bermusuhan tidak diizinkan melintasi Selat Hormuz.
Menurut pernyataan pihak Iran, negara yang melakukan serangan terhadap mereka tidak akan diberikan akses, meskipun jalur tersebut tidak ditutup sepenuhnya.