
RedaksiHarian – Belum lama ini, mindset atau gerakan bernama FIRE (Financial Independence, Retire Early) banyak diperbincangkan oleh warganet yang melek investasi di jejaring media sosial. Tren ini pada dasarnya berbasis cita-cita untuk mendapatkan kebebasan finansial , sehingga orang bisa memilih pensiun secara ‘dini’ untuk melakukan segala yang disuka. Tentu saja, bagi sebagian besar orang, mindset ini tidak mudah. Panjang jalan menujunya.
Dengan kata lain, FIRE adalah mindset yang terbentuk karena keinginan untuk terbebas dari ikatan tuntutan pekerjaan untuk bisa membiayai hidup. Sehingga, bebas menentukan pilihan dalam hidup. Seperti diketahui, sebagian orang menginginkan kebebasan menikmati waktu dan menyalurkan sumber daya yang dimiliki, baik waktu dan asetnya, untuk melakukan kegiatan yang benar-benar disukai tanpa harus bekerja demi mencari uang.
Certified Financial Planner Lolita Setyawati berpendapat, mindset ini wajar saja jika dijalankan atau diinginkan banyak orang. Hanya saja, jika seseorang memutuskan untuk mencapai FIRE artinya harus siap dengan konsekuensi berupa merubah gaya hidup dan mengusahakan menyisihkan lebih banyak lagi untuk dialokasikan ke aset produktif.
ADVERTISEMENT
Lolita menyarankan, hal tersebut harus mulai dilakukan sedini mungkin, dengan kemungkinan harus mengorbankan gaya hidup saat ini demi segera mencapai FIRE. Kecuali, jika seseorang dilahirkan dengan memiliki hak-hak istimewa (privilege) menyangkut finansial.
Menurut dia, mindset FIRE sebenarnya cukup relevan diterapkan di Indonesia. FIRE tidak berbatas negara. Siapa pun di dunia ini bisa mencapai FIRE.
Akan tetapi, khusus di Indonesia ada beberapa hal yang disebutkannya harus menjadi perhatian. Hal tersebut yakni literasi keuangan yang masih relatif kurang di Indonesia, yaitu sekitar 49,68 persen (menurut hasil Survei Nasional OJK Tahun 2022).
Kurangnya literasi tersebut membuat masyarakat Indonesia yang ingin mencapai FIRE harus meningkatkan literasi keuangannya. Hal ini berkaitan dengan kemampuan mengelola keuangan agar segera mencapai kebebasan finansial .
Selain itu, terdapat budaya atau kebiasaan di Indonesia yang menganggap keluarga besar juga adalah tanggung jawab keuangan yang harus ditanggung (sandwich generation). Dengan banyaknya kebutuhan hidup keluarga, bisa jadi kemampuan seseorang untuk mencapai kebebasan finansial sedikit terhambat.
Lolita Setyawati juga mengatakan, sebelum memutuskan untuk mengejar target FIRE, seseorang harus terlebih dulu mengetahui kelebihan dan kekurangannya. Kelebihan yang dimiliki antara lain seseorang tidak hanya memikirkan hidup saat ini, tapi juga masa depan.
Dengan demikian, orang tersebut harus dapat mengatur gaya hidup yang sesuai agar tujuan masa depan tercapai. Selain itu, saat sudah mencapai FIRE, seseorang mempunyai lebih banyak pilihan dalam hidup seperti apakah akan tetap bekerja? Bekerja di mana dan dengan siapa?
“Setelah mencapai FIRE, akan lebih banyak waktu dan aset yang bisa digunakan untuk kegiatan atau hal-hal yang lebih bermanfaat bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk kepentingan orang lain,” tutur Lolita, 29 Juli 2023.
Sementara itu, kekurangannya adalah masih banyak masyarakat yang salah kaprah terhadap konsep ini. Banyak orang yang berpikiran jika sudah mencapai FIRE, maka seseorang dapat pensiun dini dan tidak bekerja sama sekali. Atau, seseorang dianggap menyia-nyiakan usia produktifnya dengan tidak bekerja.
“Padahal, usia saat pensiun dini biasanya masih di usia yang produktif. Kompetensi dan kemampuan bekerja yang ada menjadi tidak dapat dimanfaatkan, bisa jadi masih banyak prestasi atau pencapaian yang bisa diraih,” kata dia.
Strategi menuju FIRE bukanlah one size fits all, tetapi bisa disesuaikan sesuai dengan latar belakang dan kemampuan finansial masing-masing individu. Adapun untuk keberhasilan target FIRE, Lolita menyebutkan beberapa langkah yang bisa diterapkan.
Yang pertama yakni menentukan jumlah aset yang harus dicapai untuk mencapai kebebasan finansial . Perhitungan secara umum untuk nilai aset yang harus dicapai adalah 25x penghasilan tahunan.
Misalnya gaji sebulan Rp5 juta, maka total aset yang harus dikumpulkan adalah Rp1,5 miliar (Rp5 juta x 12 x 25).
Kedua, yakni mau mengubah gaya hidup di bawah kemampuan. Untuk dapat mencapai angka target yang ingin dicapai, minimal harus dapat menabung atau berinvestasi sebesar 50 persen dari total penghasilan per bulan.
Kemudian, seseorang yang ingin mengejar FIRE harus meningkatkan literasi keuangan dengan belajar perencanaan keuangan. Mulai dari memastikan memiliki keuangan yang sehat, serta mempelajari produk investasi yang sesuai dan konsisten berinvestasi untuk mencapai target.
Keempat, menambah sumber penghasilan dan perbanyak aset yang produktif.
“Bila sudah tidak mungkin lagi menekan pengeluaran, maka penghasilan tambahan adalah kuncinya,” tutur Lolita.
Dengan demikian, maka akan lebih banyak lagi yang disisihkan untuk investasi di aset yang produktif. Aset produktif inilah yang nantinya dapat memberikan pengganti atas penghasilan yang rutin selama masih bekerja.
Sementara itu, untuk memilih instrumen investasi yang ‘sehat’ demi mencapai target FIRE, Lolita menyarankan untuk terlebih dahulu memahami profil risiko investor sehingga dapat memilih produk investasi yang sesuai.
“Lalu, berinvestasi sesuai dengan tujuan keuangan yang ingin dicapai dan menentukan target investasi yang realistis dengan target waktu tertentu,” katanya.
Lolita juga mengatakan agar investor harus tahu kapan harus menarik investasi atau mengambil keuntungan, serta tidak serakah saat dihadapkan pada kemungkinan keuntungan yang besar. Kemampuan untuk mengidentifikasi investasi bodong juga harus terus diasah.
“Jangan lupa untuk konsisten dalam berinvestasi jangka panjang. Jangan mudah FOMO, serta tidak tergoda untuk mengikuti gaya investasi orang lain yang belum tentu sesuai dengan kita,” tutur Lolita.***