redaksiharian.com, Jakarta – Indonesia memiliki peluang besar untuk terlibat dalam misi internasional pengamatan astronomi yang dilakukan dari Bulan. Kesempatan ini bisa dimanfaatkan untuk memperkuat peran negara dalam eksplorasi antariksa dan pengembangan teknologi terkait.
Chatief Kunjaya, anggota Board of Director International Lunar Observatory Association, menekankan bahwa Indonesia dapat berkontribusi, termasuk dalam pengembangan instrumen teknologi.
“Dengan berpartisipasi aktif dalam program ILOA, Indonesia memiliki kesempatan untuk memperluas eksplorasi antariksa dan mengembangkan kapasitas teknologi nasional,” ujar Chatief, dikutip dari laman resmi BRIN, Kamis (26/3).
Ia menambahkan, Indonesia bahkan berpotensi merancang kamera untuk misi ILO-2, sekaligus sebagai sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan di bidang astronomi.
Meski manfaat langsungnya belum terlihat, Chatief menekankan pentingnya menyiapkan sumber daya manusia dan teknologi nasional sebagai bekal masa depan. “Indonesia perlu fokus pada capacity building karena peluang berpartisipasi dalam observatorium astronomi di Bulan sangat terbuka,” jelasnya.
Selama ini, pengamatan astronomi umumnya dilakukan dari Bumi menggunakan teleskop. Namun, perkembangan teknologi memungkinkan observasi langsung dari Bulan, yang dinilai mampu menghasilkan data lebih akurat sekaligus membuka kesempatan bagi Indonesia untuk terlibat dalam misi antariksa internasional.
Chatief, yang juga tergabung dalam Kelompok Keilmuan Astronomi FMIPA ITB, menjelaskan keunggulan pengamatan dari Bulan dibanding Bumi. Menurutnya, interferensi gelombang radio di Bumi sering mengganggu hasil observasi, sedangkan di Bulan gangguan tersebut minimal.
“Jika kita mengamati gelombang radio dari Bumi, banyak interferensi sinyal lain yang mengganggu. Di Bulan, intervensi dari Bumi dapat terhalang secara alami,” jelasnya.
Selain itu, permukaan Bulan memiliki kawah dengan area gelap permanen dan suhu rendah, sehingga perangkat kamera tidak memerlukan pendingin tambahan. Bulan juga menawarkan kestabilan tinggi, memungkinkan pemasangan sistem Very Long Baseline Interferometer (VLBI) tanpa koreksi konstan seperti di Bumi. Atmosfer tipis Bulan membuat cahaya bintang terlihat lebih jelas.
Chatief juga menyinggung proyek ILO-X yang berhasil mendarat di Bulan menggunakan wahana Nova-C. “ILO-X sukses mendarat dan mengirimkan hasil foto, meski salah satu kakinya menabrak batu, sehingga kamera mengamati dalam posisi miring,” katanya.
Proyek ILO-X menjadi tahap uji coba sebelum pengembangan misi utama, yakni ILO-1 dan ILO-2. Peningkatan teknologi, terutama sistem kamera, diperlukan agar kamera dapat bergerak otomatis dan mengoptimalkan pengambilan gambar pengamatan di Bulan.
Sementara itu, Kepala Pusat Riset Antariksa BRIN, Emanuel Sungging Mumpuni, menyatakan bahwa momen ini dapat dimanfaatkan untuk memperluas peran Indonesia dalam eksplorasi luar angkasa. “Kita akan membuka wawasan dan mempelajari peluang-peluang yang ada,” ujarnya.