
RedaksiHarian – Konferensi Internasional Inclusive Lifelong Learning Conference (ILLC) hasilkan Bali Manifesto sebagai upaya pelestarian ekosistem Lifelong Learning atau pembelajaran sepanjang hayat yang inklusif.”Salah satu hasil dari konferensi ini kita sebut sebagai Bali Manifestoyang menekankan pentingnya mempromosikan ekosistem pembelajaran sepanjang hayat yang inklusif,” kata National Officer UNESCO Jakarta Zakki Gunawan saat dikonfirmasi di Badung, Bali, Rabu.Zakki mengatakan kata inklusif perlu ditekankan, sehingga menjadikan suara bahwa setiap warga negara berhak untuk mendapatkan kesempatan yang samadalam bentuk ekosistem pelatihan dan pendidikan apapun.Dia menyebutkan seluruh peserta konferensi menyetujui adanya Bali Manifestodengan menyerukan adanya promosi ekosistem pembelajaran sepanjang hayat yang inklusif dan efektif dalam melayani kebutuhan semua peserta didik.
“Yaitu dengan tanpa melihat latar belakang budaya, sosial, agama, kelompok rentan, dan kelompok, yang saat ini masih belum memiliki akses yang baik,” ujarnya.Bali Manifesto terdiri atas 22 poin yang terdiri atas tiga bagian utama yakni preambul, tantangan, dan kesempatan, dalam pembelajaran sepanjang hayat yang inklusif, serta mewujudkan pembelajaran sepanjang hayat yang inklusif.Bali Manifesto telah disetujui oleh sejumlah 339 peserta konferens, dengan sejumlah peserta yang terdiri dari presiden, menteri, anggota parlemen, wali kota, serta sejumlah akademisi dan mitra yang berasal dari 38 negara.ILLC diadakan di Nusa Dua, Badung, Bali, pada 3-6 Juli 2023 oleh Pemerintah Indonesia melalui Program Prakerja, bekerja sama dengan UNESCOILLC merupakan pengejawantahan dari acara Konferensi Internasional tentang Pendidikan Dewasa (CONFINTEA VII) yang dilaksanakan di Maroko pada 2022 silam.