redaksiharian.com, Jakarta – Harga minyak global mengalami kenaikan drastis pada perdagangan Senin (9/3), dipicu oleh konflik bersenjata antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel yang mengganggu pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Kenaikan ini membawa harga minyak ke titik tertinggi sejak pertengahan tahun 2022. Minyak mentah acuan Brent tercatat melonjak lebih dari 16 persen atau sekitar US$15 hingga mencapai kisaran US$107 per barel, bahkan sempat menyentuh level di atas US$111 per barel.
Hal serupa juga terjadi pada minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) dari AS, yang naik lebih dari 18 persen hingga berada di kisaran US$107 per barel, setelah sebelumnya sempat menembus angka US$111 per barel.
Lonjakan harga ini melanjutkan tren kenaikan yang sudah terjadi selama sepekan terakhir. Dalam periode tersebut, harga Brent meningkat sekitar 27 persen, sementara WTI mencatat kenaikan lebih dari 35 persen.
Kondisi ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap terganggunya pasokan minyak dari Timur Tengah, terutama setelah konflik militer meluas dan melibatkan sejumlah negara di kawasan tersebut. Situasi semakin diperburuk oleh langkah beberapa negara produsen yang mulai mengurangi output minyak mereka.
Selain itu, perhatian juga tertuju pada Selat Hormuz, jalur penting distribusi minyak dunia yang berpotensi mengalami gangguan berkepanjangan akibat konflik.
Sejumlah negara produsen di kawasan Teluk, seperti Irak dan Kuwait, dilaporkan telah menurunkan produksi minyak. Sebelumnya, Qatar juga mengurangi pasokan gas alam cair.
Analis memperkirakan langkah serupa kemungkinan akan diikuti oleh Uni Emirat Arab dan Arab Saudi, mengingat kapasitas penyimpanan minyak di negara-negara tersebut mulai mendekati batas maksimum.
Menurut analis komoditas senior ANZ, Daniel Hynes, kenaikan harga dipicu oleh laporan bahwa produsen minyak di Timur Tengah mulai mengurangi produksi karena keterbatasan kapasitas penyimpanan.
Ia menambahkan bahwa kondisi ini tidak hanya menekan produksi saat ini, tetapi juga berpotensi memperlambat pemulihan output ketika situasi konflik mulai mereda.
Di Irak, dampak konflik sudah terlihat nyata, dengan produksi dari ladang minyak utama di wilayah selatan turun drastis hingga sekitar 70 persen, menjadi sekitar 1,3 juta barel per hari. Penurunan ini disebabkan oleh kesulitan distribusi melalui Selat Hormuz.
Sementara itu, perusahaan energi di Kuwait juga mulai mengurangi produksi dan bahkan menetapkan status darurat (force majeure) terhadap pengiriman minyak.
Ketegangan keamanan turut memicu insiden di berbagai fasilitas energi. Di Fujairah, Uni Emirat Arab, dilaporkan terjadi kebakaran di kawasan industri minyak akibat serpihan serangan. Di sisi lain, Arab Saudi berhasil menggagalkan serangan drone yang mengarah ke ladang minyak Shaybah, salah satu fasilitas penting negara tersebut.
Para analis memperingatkan bahwa lonjakan harga minyak ini berpotensi berdampak luas, termasuk kenaikan harga bahan bakar bagi konsumen dan pelaku usaha di berbagai negara.
Gangguan produksi, hambatan distribusi, serta meningkatnya risiko keamanan di jalur pengiriman energi diperkirakan akan membuat tekanan harga minyak bertahan dalam beberapa pekan hingga bulan ke depan, bahkan jika konflik mulai mereda.