RedaksiHarian – Mario Dandy Satriyo hadapi sidang pembacaan tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU), Selasa, 15 Agustus 2023.

Terdakwa kasus penganiayaan berencana ini dituntut 12 tahun penjara tanpa adanya hal yang meringankan usai terbukti melakukan kekerasan terhadap putra pengurus GP Ansor, David Ozora .

Jaksa menyebut, ada beberapa hal yang memberatkan hukuman Mario Dandy di antaranya aksi yang dilakukan terdakwa tergolong sadis serta brutal.

ADVERTISEMENT

Kedua, tindakan terdakwa telah menyebabkan dampak kesehatan fatal yang merugikan kehidupan korban.

“Hal memberatkan: perbuatan yang dilakukan terdakwa sangat tidak manusiawi karena dilakukan sadis dan brutal, mengakibatkan David mengalami kerusakan otak dan amnesia,” ucap jaksa di PN Jakarta Selatan.

Sebab itu, jaksa menilai tidak ada yang dapat meringankan terdakwa mengingat kerusakan dan kerugian yang ditimbulkan Mario cukup berat.

“Hal meringankan, nihil,” ucapnya.

“Menuntut supaya majelis hakim PN Jaksel yang memeriksa dan mengadili perkara ini memutuskan, menyatakan, terdakwa Mario Dandy Satriyo terbukti bersalah melakukan kejahatan penganiayaan berat yang dilakukan dengan rencana terlebih dahulu,” tutur jaksa.

Ayah David Ozora , Jonathan membeberkan kondisi kesehatan anaknya pasca dinyatakan menderita diffuse axonal injury.

Setelah 6 bulan menjalani perawatan intensif, David yang sempat tak bisa bergerak sedikit pun dari kasur rumah sakit kini disebut mulai menunjukkan perkembangan.

Meski begitu, Jonathan menuturkan, sang anak masih harus menjalani fisioterapi untuk mengembalikan kemampuan motoriknya.

“Masih jalan, fisioterapi sekarang tinggal fisioterapi mengembalikan motorik,” ucapnya.

Dia sendiri belum mengetahui sejauh apa fisioterapi dapat membantu anaknya. Pasalnya, cidera otak sulit dideteksi dan penyembuhannya membutuhkan waktu.

“Pemulihannya kita masih kontrol, jadi kita belum bisa memastikan seperti apa. Brain injury kan tidak bisa dilihat seperti tampak mata, jadi kita masih kontrol, dokter Tatang juga memantau, tiap bulan, dan belum ada pemberitahuan sampai kapan. Progresnya kecil, tapi ini saya rasa sebagai sebuah keajaiban,” ujar Jonathan.

Meski begitu, dibanding pertama kali masuk rumah sakit, Jonathan menyebut anaknya mengalami perkembangan yang pesat walau efek dari diffuse axonal injury masih terlihat.

“Kemajuannya misalnya gini, dulu target dia yang motorik, dia harus bisa menyelesaikan sebuah tugas berjalan 24 menit, ketika orang normal 24 menit akan mengalami perubahan saturasi. Kalau David ini pas 18 menit sudah mengalami perubahan saturasi,” ujar Jonathan.

Dia menyebut, akibat cidera otak ini, David kerap mengalami pikun dan sering kesulitan mengontrol emosinya.

“David ini juga pikun, kalau ini agak lama sih, dia juga masih meledak. Mellisa lagi yang kena, dibacot-bacotin,” kata Jonathan.***