redaksiharian.com – Kurang dari setahun, Elon Musk harus kehilangan lebih dari US$100 miliar atau Rp 1.557 triliun triliun. Yakni dari US$320,3 miliar (Rp 4.900 triliun) pada November lalu menjadi ‘hanya’ US$209,4 miliar (Rp 3.260 triliun) pada penutupan pasar hari Kamis lalu.

Forbes mencatat penurunan ini hampir seluruhnya disebabkan karena penurunan tajam harga saham Tesla. Per bulan ini saja kekayaan bos SpaceX dan Tesla itu anjlok US$28 miliar (Rp 436 triliun), dikutip Senin (24/10/2022).

Pada pendapatan kuartalan Tesla dilaporkan masih jauh dari beberapa ekspekstasi analis. Selain itu juga ada kekhawatiran mengenai kemungkinan resesi serta ketakutan investor.

“Dia menjual mobil mahal, jadi resesi tidak akan baik untuk bisnisnya,” kata kepala strategi pasar Miller Tabak + Co, Matt Maley.

Musk masih sangat kaya, yakni US$60 miliar lebih banyak dari pemilik LVMH Bernald Arnauld serta US$71 miliar lebih kaya dari pendiri Amazon Jeff Bezos.

Banyak hal terjadi tahun ini pada Musk, termasuk keinginan yang sempat maju-mundur untuk membeli Twitter. Bahkan tahun lalu dalam upaya membiayai akuisisi, dia menjual saham Tesla senilai US$31 miliar.

Menurut analis Wedbush, Dan Ives, kemungkinan ada lebih banyak penjualan saham Tesla oleh Musk. Ini bakal jadi masalah untuk investor produsen mobil tersebut.

“Masalah bagi investor Tesla adalah lebih banyak penjualan saham kemungkinan oleh Musk untuk mendanai kesepakatan ini, yang diyakini akan turun jadi salah satu kesepakatan M&A terburuk dan dibayar lebih dalam sejarah,” jelasnya.

Namun Garrett Nelson, seorang analis ekuitas CFRA Research tetap optimis pada prospek Tesla. Menurutnya, Tesla tetap mengalami pertumbuhan pendapatan terkuat dalam jangka menengah dan panjang, yang didorong oleh rekor penjualan kendaraan di kuartal terakhir.