RedaksiHarian – Fabio Quartararo bakal menjalani musim keempatnya bersama tim pabrikan Yamaha pada MotoGP 2024.

Semangat untuk bangkit dari keterpurukan diusung El Diablo semenjak dia mengalami kesulitan ketika hampir saja merengkuh dua titel Juara Dunia secara beruntun.

Setelah gagal mempertahankan gelar meski sudah unggul 91 poin jelang paruh musim pada 2022, Quartararo makin merana pada 2023 karena tak sekali pun menang.

Masalah Yamaha yang terjadi berlarut-larut membuat Quartararo meradang. Beruntung, secercah harapan muncul di hadapannya.

Mesin anyar yang dikembangkan eks insinyur Ferrari di F1, Luca Marmorini—salah satu senjata Yamaha untuk membuat Quartararo bertahan—akhirnya siap untuk digunakan.

Selain itu, metode kerja Yamaha yang lebih merangkul budaya dinamis dan berani mengambil risiko ala pabrikan Eropa juga disambut positif oleh Quartararo.

Satu hal lain yang membuat Quartararo bisa lebih optimistis adalah kehadiran Alex Rins sebagai rekan setim baru. Chemistry yang lebih baik menjadi alasannya.

“Dengan Alex saya merasa sangat senang,” kata Quartararo, dilansir dari Motorsport.com.

“Pada dasarnya saya telah berbicara dan lebih sering berdiskusi dengannya dalam sebuah tes daripada dengan Morbidelli selama empat tahun.”

“Itulah yang terjadi dan apa yang saya pikirkan.”

Sosok Morbidelli yang dimaksud Quartararo tidak lain dan tidak bukan adalah Franco Morbidelli yang notabene merupakan tandem terlama El Diablo sepanjang karier grand prix-nya.

Sejak menjalani debut di kelas para raja pada 2019 hingga keduanya berpisah pada akhir 2023, cuma setengah musim Quartararo satu tim dengan pembalap selain Morbidelli.

Meski demikian, menurut Motorsport.com, Quartararo dan Morbidelli memang berbeda dalam hal karakter. Quartararo lebih terbuka daripada Morbidelli.

Selain itu hampir selalu menjadi rekan setim secara tidak langsung justru membuat keduanya terlibat rivalitas.

Morbidelli hampir selalu berada di bawah bayang-bayang Quartararo karena kalah cepat sejak awal meski Juara Dunia Moto2 2017 ini setahun lebih awal mentas di kelas MotoGP.

Pengecualiannya hanya pada 2020 ketika Morbidelli menjadi runner-up kejuaraan sedangkan Quartararo terjebak dalam inkonsistensi walau telah dijamin kursi di tim pabrikan.

“Senang rasanya bisa pergi ke sisi garasi lainnya dan berbicara secara natural. Sebelumnya, ketika Franco masih di sana, saya merasa segan,” ungkap Quartararo.

Quartararo merasa bahwa komunikasi yang baik antara rekan setim akan berdampak positif bagi pengembangan motor.

Dalam hal ini, Quartararo juga merasa lebih cocok dengan Alex Rins dan bukan karena keduanya sama-sama berdomisili di Andorra.

“Dengan Alex kami punya rivalitas, dia ingin mengalahkan saya dan saya ingin mengalahkan dia,” ujar Quartararo.

“Namun, saya lebih memilih mengalahkannya dengan finis di posisi pertama dan dia di posisi kedua daripada kami berdua finis ke-10 dan 11.”

“Kami berdua punya gaya berkendara yang, walaupun berbeda, masalah yang kami hadapi sama,” pungkasnya.