
RedaksiHarian – Covid-19 varian Eris menjadi momok baru bagi masyarakat dunia, setelah virus tersebut menyerbu Inggris. Varian Eris yang secara teknis disebut EG.5.1 merupakan turunan dari Omicron.
UK Health Security Agency (UKHSA) menyebut Covid-19 varian Eris ditemukan sejak Februari 2023 lalu. Varian baru ini mulai menyebar di Inggris sejak Juli 2023.
Melansir laporan dari UKHSA pada 10 Juli 2023 lalu, sebanyak 11,8 persen pasien corona terinveksi Covid-19 varian Eris . Bahkan jenis virus tersebut merupakan varian paling umum kedua di Inggris.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan kasus Covid-19 varian Eris sudah ditemukan di Indonesia. Varian tersebut terdeteksi masuk Indonesia sejak sekitar dua bulan lalu, atau pada bulan Juni.
“Varian ini masih dimasukkan ke level yang paling bawah untuk varian, bukan varian tinggi seperti Delta, tapi ini jiga diamati belum dikhawatirkan. Jadi untuk masyarakat tidak usah panik,” ujar Budi Gunadi Sadikin pada Kamis, 10 Agustus 2023.
Meski tak lebih berbahaya dari varian Delta, Menkes mengimbau masyarakat untuk tetap waspada. Masyarakat diminta untuk tetap mematuhi protokol kesehatan (prokes) saat berada di tempat ramai.
Bagi masyarakat yang belum mendapatkan vaksin lengkap atau booster, diminta untuk segera mendapatkan vaksinasi lengkap. Hal itu untuk menghindari keparahan jika terkena Covid-19 .
“Bagi yang belum divaksin harus divaksin karena jumlah dosis vaksin banyak dan gratis hingga akhir tahun ini. Masyarakat harus cepat-cepat ‘booster’ dan rajin cuci tangan,” kata Budi menambahkan.
Kepala Divisi Penyakit Menular di Fakultas Kedokteran Universitas Buffalo, Thomas Russo mengungkapkan gejala varian Eris sama dengan jenis lainnya. Adapun gejala yang dirasakan oleh pasien adalah pilek, sakit kepala, kelelahan, sakit tenggorokan dan bersin.
Bagi pasien yang lebih tua dan memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, dan memiliki penyakit penyerta disebut memiliki risiko tinggi dan efeknya lebih parah. Kaum rentan bisa saja mengalami penyakit pernapasan bagian bawah, nyeri dada, dan sesak napas.
Pasien Covid-19 varian Eris menyebar dengan sangat cepat di Amerika Serikat. Mereka bahkan menjalani perawatan di rumah sakit.
Kendati demikian, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut tidak ada bukti yang menghubungkan peningkatan rawat inap di banyak negara dengan Covid-19 varian Eris ini. Sejumlah ahli menyebut kemungkinan penyebab lain banyaknya orang dirawat di rumah sakit, seperti cuaca ekstrem.***