
RedaksiHarian – Uang tersebut disebutkan Cak Imin dalam jumlah yang cukup besar. Totalnya bisa mencapai miliaran rupiah.
“Kalau di Jakarta , temah-teman saya yang jadi tiga sampai empat kali, ongkos politiknya sekira Rp40 miliar,” kata Cak Imin .
Cak imin menuturkan jika money politic pada faktanya di lapangan terus dipraktikkan. Padahal, pemerintah sering memberikan imbauan untuk tidak melakukan praktik money politic .
ADVERTISEMENT
Dikatakan lebih lanjut oleh Cak Imin , dalam pemilu dua periode terakhir, money politic terbukti ada di lapangan. Bahkan, praktik tersebut disebutkan sangat terbuka.
“Apa yang disampaikan dengan money politic , yang kaya yang berkuasa, yang menang yang punya duit, itu terbukti di lapangan dengan baik,” ujar Cak Imin .
Kondisi tersebut membuat Cak Imin prihatin. Pasalnya, keadaan yang ada di lapangan tidak sejalan dengan harapannya.
“Saya prihatin dengan kondisi tersebut. Sebagai salah satu orang yang ingin para anak muda dan aktivis duduk di legislatif dengan ideologi yang jelas, kondisi tersebut sangat memprihatinkan. Kompetisinya sangat pragmatis,” ucap Cak Imin .
Cak Imin hanya menyebutkan mengenai ongkos untuk menjadi legislatif di Jakarta . Untuk ongkos politik sebagai Presiden, ia berujar tidak mengetahuinya.
“Saya belum pernah pengalaman jadi capres. Jadi enggak tahu,” ucap Cak Imin .
Cak Imin dirumorkan menjadi pasangan ketua umum Gerindra, Prabowo Subianto dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Menteri Pertahanan itu mengajukan diri sebagai bakal calon Presiden.
Pengamat politik Arif Nurul menyebutkan Cak Imin merupakan sosok yang tepat untuk mendampingi Prabowo Subianto. Ia menilai jika keduanya dipasangkan, bisa mendapatkan kemenangan di Jawa Timur.
“Kalau Prabowo menggandeng Gus Muhaimin, itu akan memperlebar ceruk massa dan menang di Jawa Timur, tempat Prabowo Subianto kalah selama dua Pilpres sebelumnya. Ketepatan Prabowo Subianto ataupun bacapres lainnya dalam memilih pasangan menjadi salah satu penentu kemenangan mereka,” ujar Arif Nurul.***