RedaksiHarian – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan fenomena El Ninodan Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang saling menguatkan pada musim kemarau dapat berdampak pada kurangnya sumber air hingga gagal panen.

Dwikoritakepada ANTARA di Jakarta, Selasa, mengatakan dampak dari dua fenomena tersebut membuat musim kemarau menjadi lebih kering, dan curah hujan menjadi rendah hingga sangat rendah.

Kondisi tersebut, menurut dia, membuat uap air sangat berkurang. Dengan patokan jika curah hujan normal sekitar 20 mm untuk satu hari, menjadi curah hujan untuk sebulan sekali, sehingga menjadi kering, atau bahkan tidak ada hujan sama sekali.

“Bahkan bisa saja selama dua bulan menjadi sama sekali hari tanpa hujan. Akibatnya tentu kekurangan air, kita khawatir akan kekurangan sumber mata air menjadi kering, karena resapan hujannya juga berkurang. Nah kalau kita kekurangan sumber air, yang terganggu adalah pertanian dan juga kehidupan sehari-hari menjadi kekurangan air,” ujar Dwikorita.

Ia menegaskan bahwadi sektor pertanian dikhawatirkan akan terjadi gagal panen. Selain itu, juga dapat memicu hama penyakit pada tanaman pertanian.

Risiko kesehatan, menurut dia, juga akan terjadi karena kegiatan sanitasi menjadi terganggu akibat kekurangan air.

“MCK (mandi, cuci, kakus) menjadi terganggu, misalnya untuk di daerah-daerah yang sangat tergantung air,” kata dia.

BMKG dalam hal ini telah berkoordinasi dengan berbagai stakeholder untuk mengantisipasi dua fenomena tersebut yang diprediksi puncaknya pada Agustus maupun awal September 2023.

Presiden Joko Widodo juga memerintahkan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo untuk menggenjot produksi beras guna menjaga stok beras nasional menjelang fenomena El Nino atau musim cuaca abnormal yang diperkirakan terjadi pada kuartal III 2023.