redaksiharian.com, Surabaya – Harga Bitcoin mengalami koreksi ke kisaran USD 70.000 menyusul pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang memberikan sinyal kebijakan moneter ketat. Penurunan ini muncul setelah revisi target inflasi Amerika Serikat naik menjadi 2,7% dan keputusan bank sentral untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 3,50%–3,75%.
Menurut Vice President Indodax, Antony Kusuma, “Keputusan FOMC yang menahan suku bunga dan revisi proyeksi inflasi menunjukkan arah kebijakan The Fed yang masih cenderung hawkish. Pasar menangkap sinyal bahwa inflasi belum turun sesuai harapan, sehingga likuiditas ke aset berisiko, termasuk kripto, menjadi lebih terbatas.”
Antony menambahkan bahwa pergerakan pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh ekspektasi investor terhadap kebijakan moneter global. Meskipun Bitcoin turun sekitar 7%–8%, ia menilai hal ini merupakan penyesuaian pasar yang normal terhadap dinamika ekonomi global.
Sebelum adanya sentimen FOMC, Bitcoin sempat menguat mendekati USD 76.000 pada Selasa (17/3), didorong oleh aliran dana institusional ke spot Bitcoin ETF senilai USD 199,37 juta. Hal ini menunjukkan minat besar dari investor institusional meski volatilitas pasar tetap tinggi.
Dalam pernyataan resmi, Ketua Jerome Powell menegaskan bahwa keputusan untuk menurunkan suku bunga di masa depan akan sangat bergantung pada perkembangan data inflasi. Faktor ketidakpastian global, termasuk konflik di Timur Tengah dan kenaikan harga energi, membuat kemungkinan pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat menjadi terbatas.