redaksiharian.com, Jakarta – Pengamat sepak bola Indonesia, Anton Sanjoyo atau yang dikenal sebagai Bung Joy, menilai Amerika Serikat seharusnya merasa malu apabila Iran memutuskan untuk tidak berpartisipasi dalam Piala Dunia FIFA 2026.
Wacana boikot muncul setelah Menteri Olahraga Iran, Ahmad Donyamali, menyatakan bahwa tim nasional Iran—yang dikenal dengan julukan Team Melli—kemungkinan tidak dapat tampil di turnamen tersebut. Situasi ini berkaitan dengan konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel yang berujung pada meninggalnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, pada 28 Februari lalu.
Menurut Bung Joy, apabila Iran benar-benar memilih mundur dari ajang tersebut, maka hal itu menjadi sinyal kuat bahwa Amerika Serikat tidak pantas menjadi tuan rumah turnamen sepak bola terbesar di dunia itu.
Ia juga menilai langkah boikot bisa menjadi bentuk sikap politik yang tegas. Menurutnya, keselamatan dan nyawa manusia jauh lebih penting dibandingkan partisipasi dalam sebuah kompetisi olahraga.
Selain itu, Bung Joy turut menyoroti sikap FIFA yang dianggap tidak konsisten. Ia menyinggung bagaimana organisasi tersebut sebelumnya menjatuhkan sanksi keras kepada Rusia setelah negara itu melancarkan serangan ke Ukraina.
Bung Joy menilai keputusan Iran nantinya bisa memengaruhi pandangan negara-negara lain terhadap FIFA serta memunculkan perdebatan di kalangan pengambil kebijakan global. Meski secara teknis mungkin tidak terlalu memengaruhi jalannya turnamen, dampak politik dan moralnya bisa cukup besar.
Ia juga menambahkan bahwa pemerintah Iran kemungkinan sudah mempertimbangkan berbagai konsekuensi jika benar-benar menarik diri dari turnamen tersebut. Dalam regulasi FIFA, sebuah tim nasional yang mundur dari kompetisi resmi dapat menghadapi sanksi, mulai dari denda hingga kemungkinan larangan tampil pada turnamen berikutnya.
Meski demikian, Bung Joy berpendapat bahwa jika alasan pengunduran diri berkaitan dengan perang atau konflik bersenjata, maka keputusan tersebut masih dapat dipahami. Namun apabila penolakan hanya didasarkan pada faktor politik atau hubungan diplomatik antarnegara, maka potensi hukuman dari FIFA tetap harus diterima sesuai aturan yang berlaku.