RedaksiHarian – Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) merayakan Hari Sumpah Pemuda dengan menularkan nilai-nilai kepemimpinanSoekarno lewat pagelaran wayang kulit yang diselenggarakan di Pusat Studi Arsip Statis Kepresidenan, Jakarta.”Pagelaran wayang kulit ini bukan sekadar hiburan semata, melainkan bagian dari upaya ANRI untuk mendekatkan masyarakat dengan arsip bersejarah, serta mendorong masyarakat untuk menjelajahi dan memanfaatkan fasilitas di Gedung ANRI ini sebagai sumber pengetahuan yang berharga tentang Indonesia, khususnya kepemimpinan Presiden Soekarno,” kata Kepala ANRI Imam Gunarto dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu.Pagelaran wayang kulit yang diselenggarakan pada Jumat (27/10) ini juga menjadi momentum untuk mengenalkan Gedung Pusat Arsip Statis Kepresidenan yang terletak di Jalan Gajah Mada nomor 111, Jakarta Barat, kepada masyarakat luas sebagai simbol persatuan bangsa.”Sudah seharusnya kita memperkokoh persaudaraan, apalagi dalam waktu dekat Indonesia akan menyelenggarakan pesta demokrasi, kita harus tetap bersatu dan menghormati pilihan masing-masing, dan pagelaran wayang ini adalah wujud untuk melestarikan warisan budaya nenek moyang yang sarat dengan nilai-nilai persatuan,” ujar dia.

Gedung Cagar Budaya yang dibangun pada tahun 1755 dan pernah ditempati oleh Gubernur Jenderal VOC pada masa penjajahan Belanda Reiner De Klerk menjadi saksi dihelatnya wayang kulit ini, di mana di bagian belakang gedung juga terdapat diorama arsip kepresidenan, salah satunya tentang Presiden Soekarno yang dapat digunakan untuk pembelajaran tokoh bangsa.”Diorama tersebut diresmikan oleh Presiden Ke-5Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri. Kami ajak masyarakat untuk berkunjung, dibuka untuk umum dan gratis, sehingga kita bisa lebih memahami kiprah Bapak Bangsa dalam memajukan Indonesia,” ujar Imam.Sementara itu, Pakar Geopolitik Indonesia Hasto Kristiyanto yang juga turut hadir dalam pagelaran wayang tersebut menyampaikan bahwaPusat Studi Arsip Kepresidenan menyajikan berbagai memori kolektif bangsa yang menggambarkan ide, pemikiran, dan gagasan Presiden Soekarno yang bisa dipelajari oleh masyarakat.

“Melalui pagelaran wayang ini, selain mengingatkan momentum dan semangat Sumpah Pemuda, ada hal penting bahwa dari wayang, kita bisa belajar kehidupan tentang nilai-nilai kepemimpinan. Semoga kita tidak hanya menikmati pertunjukannya, tetapi juga dapat menangkap saripati cerita wayang tersebut,” ucap Hasto.Pagelaran wayang yang dihelat semalam suntuk ini menghadirkan tiga dalang yaitu Ki Anom Dwijokangko asal Karanganyar, Jawa Tengah, Ki Catur Benyek Kuncoro asal Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Ki Bagonk Darmono asal Klaten, Jawa Tengah, yang menampilkan lakon Wahyu Cakraningrat.Hasto berharapwayang kulit dapat menjadi pintu gerbang bagi masyarakat dalam memahami dan menghargai sejarah bangsa serta melihat keterkaitannya dengan arsip bersejarah yang disajikan di Pusat Studi Arsip Statis Kepresidenan ANRI.

“Wayang kulit adalah bagian penting dari budaya Indonesia yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Seni wayang bukan hanya disajikan sebagai hiburan semata, tetapi juga menjadi media untuk menarasikan pesan-pesan moral dan kisah-kisah berharga dari masa lalu,” tuturnya.