redaksiharian.com

    5SHARES

Makanan Pendamping ASI (MPASI)/ Foto: Shutterstock

Dream – Membuat makanan pendamping ASI (MPASI) terkadang membuat ibu kebingungan. Harus membuat makanan kaya gizi, yang nikmat, sehat dan nyaman serta aman saat dikunyah bayi. Tekstur makanan yang lembut membuat MPASI sering dibuat dengan direbus, dikukus, kemudian dihaluskan.

Hal ini lantaran bayi belum memiliki gigi sehingga makanan yang diberikan sebisa mungkin aman dan tak membuatnya tersedak. Selama ini MPASI cenderung dibuat dengan ditumis, direbus atau dikukus.

Sebenarnya, MPASI juga bisa diolah dengan digoreng. Menu gorengan tak selalu buruk. Jika diolah dengan tepat justru bisa membantu meningkatkan berat badan bayi secara signifikan. Hal ini diungkapkan oleh dr. Shinta Aprilia di akun Instagramnya @dr.shintaaprilia.

” Menu mpasi yang digoreng justru bisa menambah kalori. Bisa sebagai BB booster anak,” ungkap dr. Shinta.

Minyak goreng memang mengandung lemak dan kalori yang cukup tinggi. Lalu, makanan yang digoreng pada beberapa kondisi lebih disukai anak, karena ia bosan dengan menu yang dikukus atau direbus.

Makanan yang digoreng memang teksturnya garing dan rasanya lebih gurih. Ada syaratnya jika ingin menggoreng makanan untuk MPASI si kecil, yaitu minyak yang digunakan harus baru dan bersih.

© MEN

Tak perlu menggunakan minyak canola, zaitun atau minyak khusus. Bisa juga menggunakan minyak goreng yang biasa digunakan di rumah, asalkan kondisinya bersih.

” Pakai minyak sayur yang kita pakai sehari-hari itu juga boleh bun, asal minyak baru dan bersih,” pesan dr. Shinta.

Untuk menu MPASI yang digoreng ini disarankan dibersikan pada bayi usia 8 bulan ke atas. Jadi, tak perlu takut memberikan menu yang digoreng untuk si kecil ya, Bun!

Tak Perlu Terlalu Steril, Paparan Debu Bentuk Kekebalan Bayi

Dream – Bagi para orangtua, menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar jadi hal penting saat bayi ada di rumah. Tentu saja karena tak mau si kecil terkena debu, kuman dan virus dari kotoran yang bisa memicu penyakit.

Rupanya kondisi rumah yang terlalu bersih ternyata juga kurang baik bagi kesehatan anak. Justru paparan alergen akan jadi ” modal” kekebalan anak di kemudian hari. Terutama pada bayi saat merangkak di sekitar rumah.

© MEN

Sebuah studi yang dilakukan tim peneliti dari Purdue University dan diterbitkan dalam Journal Environmental Science and Technology mencoba menganalisis paparan debu dan kotoran pada bayi. Digunakan bayi robotik untuk bergerak di karpet yang sebelumnya digunakan di rumah.

” Tujuan kami adalah untuk mempelajari bagaimana gerakan merangkak bayi membangkitkan paparan mikroba dan debu dari karpet, dan untuk mengevaluasi eksposur inhalasi yang dihasilkan,” kata salah satu penelti, Brandon Boor, yang juga Asisten Profesor Teknik Sipil dan Lingkungan, Rekayasa Ekologi.

Merangkak

Dari hasil analisis diketahui, gerakan bayi merangkak membaurkan partikel debu yang menumpuk di karpet dan melepaskannya ke udara. Para peneliti menemukan bahwa konsentrasi partikel di sekitar bayi hingga 20 kali lebih tinggi daripada tingkat di tempat lain di ruangan itu. Partikel ini terdiri dari sel kulit, bakteri, serbuk sari dan spora jamur.

” Ini adalah studi pertama yang menunjukkan bahwa bayi yang merangkak terkena konsentrasi signifikan dari partikel biologis yang tersuspensi kembali, dan bahwa banyak dari partikel ini mengendap di saluran udara bagian bawah dari sistem pernapasan mereka,” kata Boor.

Debu membangun kekebalan

Boor mengatakan bayi yang menghirup debu dan kotoran tersebut sebenarnya juga memiliki dampak positif. Penelitian sebelumnya, termasuk studin 2014 dari Johns Hopkins Children’s Center, telah menunjukkan semakin banyak bayiyang terpapar alergen tertentu, semakin besar kemungkinan mereka untuk membangun kekebalan terhadap alergen tersebut.

“ Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa paparan inhalasi anak usia dini terhadap mikroba di udara, seperti bakteri dan jamur, dan alergen, seperti serbuk sari, tungau dan alergen hewan, dapat memainkan peran penting baik dalam pengembangan—dan perlindungan terhadap—asma, demam, dan alergi,” kata Boor.

Bersihkan Sewajarnya

Bayi yang terpapar lebih banyak kotoran dengan keragaman mikroba yang lebih tinggi memiliki risiko asma yang lebih rendah di kemudian hari. Hal ini mendukung ” hipotesis kebersihan” , yang menyarankan untuk tidak terlalu steril, karena lingkungan yang steril tidak memungkinkan sistem kekebalan untuk berkembang dan menguat.

Jadi apa yang harus dilakukan? Mungkin yang terbaik adalah menjaga rumah pada tingkat kebersihan yang wajar. Bersihkan secukupnya dan jangan terlalu steril.

Laporan: Meisya Harsa Dwipuspita