redaksiharian.com, Jakarta – Sebuah robot humanoid mencatat pencapaian luar biasa dengan menyelesaikan lomba Half Marathon yang digelar di Beijing pada Minggu (19/4). Robot tersebut berhasil menempuh jarak 21 kilometer hanya dalam waktu 50 menit 26 detik.

Dengan kecepatan rata-rata sekitar 25 km/jam, performa ini melampaui capaian robot pada ajang serupa tahun sebelumnya, yang saat itu masih membutuhkan waktu sekitar 2 jam 40 menit untuk menyelesaikan lintasan.

Bahkan, catatan tersebut lebih cepat dibandingkan rekor dunia manusia yang dipegang oleh Jacob Kiplimo, yang menyelesaikan half marathon dalam waktu 57 menit.

Robot pemenang ini dikembangkan oleh Honor. Keberhasilan ini menunjukkan kemajuan signifikan dalam bidang robotika, khususnya dalam kemampuan robot untuk bergerak secara mandiri dengan performa tinggi.

Menariknya, ada robot lain yang sebenarnya mencatat waktu lebih cepat, yakni 48 menit 19 detik. Namun, robot tersebut masih dikendalikan menggunakan remote control, sehingga tidak masuk kategori otonom penuh.

Dalam sistem penilaian lomba, kemampuan berjalan dan berlari secara mandiri menjadi faktor penting. Oleh karena itu, robot yang mampu beroperasi tanpa kendali manusia mendapatkan nilai lebih tinggi.

Jumlah peserta dalam kompetisi ini juga meningkat pesat. Jika tahun lalu hanya diikuti sekitar 20 robot, kini jumlahnya melonjak menjadi lebih dari 100 unit. Hal ini mencerminkan meningkatnya minat terhadap pengembangan robot humanoid.

Ajang ini bertujuan untuk mendorong inovasi sekaligus memperkenalkan teknologi robot kepada masyarakat luas. Berdasarkan data pemerintah China, investasi di sektor robotika dan kecerdasan buatan terintegrasi mencapai sekitar US$10,8 miliar pada tahun 2025.

Dalam perlombaan tersebut, sekitar 40 persen robot beroperasi secara otonom, sementara sisanya masih bergantung pada kendali jarak jauh.

Meski mencatat prestasi mengesankan, tidak semua berjalan mulus. Beberapa robot mengalami kendala teknis, seperti terjatuh di garis awal hingga menabrak pembatas lintasan selama lomba berlangsung.

Respons Publik

Kompetisi ini mendapat perhatian dan respons positif dari para penonton yang hadir langsung.

Salah satunya adalah Han Chenyu, seorang mahasiswi berusia 25 tahun, yang mengaku terkesan melihat kecepatan robot hingga tidak sempat mengabadikan momen saat robot melintas di depannya.

Ia menilai perkembangan teknologi tersebut sangat mengagumkan, meski di sisi lain juga memunculkan kekhawatiran terkait dampaknya terhadap dunia kerja.

“Sebagai pekerja, terkadang saya merasa khawatir karena perkembangan teknologi begitu cepat, terutama dengan kecerdasan buatan yang semakin canggih,” ujarnya.

Pendapat serupa juga disampaikan oleh warga lainnya, Xie Lei. Ia meyakini bahwa robot humanoid akan semakin dekat dengan kehidupan manusia di masa depan.

Menurutnya, robot berpotensi dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, seperti membantu pekerjaan rumah, mendampingi lansia, hingga memberikan perawatan dasar.

“Selama ini manusia selalu berada di puncak. Namun sekarang, kemampuan robot—terutama dalam navigasi otonom—mulai menunjukkan bahwa mereka bisa melampaui kita dalam bidang tertentu,” katanya.

Meski demikian, ia melihat perkembangan ini sebagai hal yang membuka banyak kemungkinan baru, meskipun juga menimbulkan refleksi tentang posisi manusia di tengah kemajuan teknologi.