redaksiharian.com, Jakarta – Proses negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik bersenjata dilaporkan mengalami kemajuan, meski belum menghasilkan titik temu yang konkret. Hal ini disampaikan oleh Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, yang juga terlibat langsung dalam proses perundingan.
Dalam pernyataannya yang disiarkan melalui televisi nasional, Ghalibaf menyebut bahwa pembicaraan menunjukkan perkembangan positif. Namun, ia menegaskan masih banyak perbedaan mendasar yang belum terselesaikan sehingga kesepakatan final belum dapat dicapai.
Ia menambahkan bahwa sejumlah isu kunci masih menjadi penghalang utama dalam perundingan, membuat kedua pihak masih berada pada tahap awal menuju penyelesaian konflik secara menyeluruh.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyampaikan optimisme bahwa kesepakatan damai dengan Iran bisa segera terwujud. Ia bahkan memperkirakan bahwa pertemuan lanjutan antara kedua negara dapat memperpanjang masa gencatan senjata yang sebelumnya disepakati selama dua minggu.
Trump juga menyebut bahwa apabila kesepakatan berhasil dicapai, ia mempertimbangkan untuk melakukan kunjungan ke Pakistan, yang berperan dalam memfasilitasi komunikasi antara kedua pihak.
Sinyal positif juga datang dari sumber diplomatik yang menyebut adanya kemajuan melalui jalur negosiasi tidak resmi. Disebutkan bahwa pertemuan berikutnya berpotensi menghasilkan nota kesepahaman yang kemudian akan diikuti oleh perjanjian lebih komprehensif dalam waktu sekitar dua bulan.
Menurut sumber tersebut, secara prinsip kedua negara telah menunjukkan kesediaan untuk mencapai kesepakatan, meskipun rincian teknis masih perlu dibahas lebih lanjut.
Peran mediator juga disebut cukup signifikan dalam mendorong kemajuan ini. Kepala Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir, dilaporkan telah melakukan komunikasi intensif dengan pihak Iran di Teheran guna menjembatani perbedaan yang ada.
Sebelumnya, perundingan langsung antara Iran dan AS sempat berlangsung di Islamabad, namun berjalan alot. Salah satu isu utama yang menjadi perdebatan adalah tuntutan AS agar Iran menghentikan program nuklirnya serta menyerahkan cadangan uranium yang telah diperkaya. Permintaan ini ditolak oleh Teheran yang bersikeras mempertahankan haknya dalam pengembangan energi nuklir.
Konflik antara kedua negara memuncak setelah serangan militer besar yang dilakukan oleh AS bersama sekutunya, Israel, terhadap Iran pada akhir Februari. Serangan tersebut menimbulkan korban besar, termasuk tokoh penting di lingkaran kepemimpinan Iran.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan terhadap target di Israel serta aset militer AS di kawasan Teluk. Selain itu, Teheran juga sempat menutup Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia, yang semakin memperkeruh situasi global.
Meski ketegangan masih tinggi, upaya diplomasi terus berjalan dengan harapan dapat mengakhiri konflik dan menciptakan stabilitas di kawasan.