redaksiharian.com, Jakarta – Penggunaan kecerdasan buatan (AI) di kawasan Asia-Pasifik (APAC) terus meningkat pesat, seiring banyaknya perusahaan yang mengintegrasikan teknologi tersebut ke dalam layanan digital mereka. Namun, di balik percepatan inovasi ini, muncul risiko baru yang mengancam keamanan sistem, khususnya pada Application Programming Interface (API).
Laporan State of the Internet (SOTI) 2026 dari Akamai mengungkap bahwa adopsi AI yang semakin luas justru membuka celah keamanan baru. Banyak perusahaan dinilai belum mampu mengimbangi kecepatan inovasi dengan kesiapan sistem perlindungan siber yang memadai.
Sepanjang tahun 2025, tercatat hampir 65 miliar serangan yang menargetkan aplikasi web dan API di wilayah Asia-Pasifik. Angka tersebut meningkat sekitar 23 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menunjukkan tren ancaman yang semakin serius.
Secara global, situasinya juga tidak kalah mengkhawatirkan. Sekitar 87 persen perusahaan dilaporkan pernah mengalami insiden keamanan yang berkaitan dengan API. Selain itu, serangan DDoS Layer 7 yang menyasar langsung permintaan pengguna mengalami lonjakan hingga 104 persen dalam dua tahun terakhir.
Pola serangan pun kini mengalami perubahan. Jika sebelumnya fokus pada eksploitasi celah teknis, kini sekitar 61 persen serangan API di kawasan APAC lebih banyak menyasar logika bisnis secara langsung. Pendekatan ini dinilai lebih sulit dideteksi oleh sistem keamanan konvensional.
Ancaman semakin kompleks dengan hadirnya bot berbahaya berbasis AI yang mampu meniru perilaku pengguna asli. Dengan kemampuan tersebut, pelaku dapat mengelabui sistem pertahanan, mengganggu layanan, mencuri data, bahkan menguras token AI perusahaan yang bernilai tinggi.
Sektor ritel dan layanan keuangan menjadi target utama karena tingginya aktivitas transaksi digital. Selain itu, industri telekomunikasi dan teknologi juga terus menghadapi tekanan seiring meningkatnya penggunaan API dalam operasional mereka.
Kondisi ini diperburuk oleh tren penggunaan AI dalam proses pengembangan perangkat lunak, seperti vibe coding, yang memungkinkan pembuatan aplikasi secara cepat. Namun, percepatan ini sering kali mengorbankan aspek pengawasan, sehingga memunculkan risiko kesalahan konfigurasi.
Setiap negara di kawasan ini menghadapi tantangan yang berbeda. Negara maju seperti Singapura dan Jepang harus menghadapi kompleksitas dalam mengelola jutaan API. Sementara itu, negara berkembang seperti Vietnam dan Thailand cenderung lebih rentan karena keterbatasan tenaga ahli di bidang keamanan siber.
Direktur Teknologi dan Strategi Keamanan Akamai untuk Asia Pasifik dan Jepang, Reuben Koh, menilai bahwa AI memang mendorong transformasi bisnis secara signifikan. Namun, ia juga mengingatkan bahwa percepatan tersebut menciptakan kesenjangan dalam tata kelola keamanan.
Ia menekankan pentingnya perusahaan untuk meningkatkan visibilitas terhadap penggunaan API serta melakukan pemantauan secara berkala. Jika tidak segera ditangani, kelemahan pada sistem ini dapat berujung pada gangguan operasional hingga kerugian finansial yang besar.
Kini, API tidak lagi sekadar menjadi penghubung antar sistem, melainkan telah menjadi komponen utama dalam infrastruktur data perusahaan. Oleh karena itu, penguatan keamanan di lapisan ini menjadi hal yang sangat krusial di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.