redaksiharian.com, Jakarta – Lonjakan harga avtur di pasar global yang berdampak pada kenaikan tarif tiket pesawat dinilai berpotensi mengurangi jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Bali. Kondisi ini dikhawatirkan dapat memengaruhi industri pariwisata di Pulau Dewata.
Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali menyatakan kekhawatirannya bahwa kenaikan biaya perjalanan udara dapat membuat wisatawan menunda atau bahkan membatalkan rencana liburan mereka.
Wakil Ketua PHRI Bali, I Gusti Agung Rai Suryawijaya, menjelaskan bahwa meskipun kondisi pariwisata Bali saat ini masih relatif stabil, perubahan harga tiket pesawat sangat sensitif terhadap keputusan perjalanan wisatawan.
Menurutnya, ketika biaya perjalanan meningkat, wisatawan cenderung melakukan peninjauan ulang terhadap rencana liburan mereka karena faktor anggaran menjadi pertimbangan utama.
Selain itu, ia juga menyoroti dampak ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, khususnya konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, yang ikut memengaruhi arus wisatawan internasional.
Gangguan pada sejumlah rute penerbangan dari hub besar seperti Dubai, Abu Dhabi, dan Doha disebut turut menurunkan jumlah wisatawan yang biasanya transit melalui wilayah tersebut sebelum menuju Indonesia, termasuk Bali.
Menghadapi situasi ini, PHRI bersama pelaku industri pariwisata berupaya melakukan penyesuaian harga agar tetap kompetitif, meski kondisi ekonomi global sedang tidak menentu.
Di sisi lain, PHRI tetap menargetkan sekitar 16 juta kunjungan wisatawan dengan memperkuat promosi ke pasar utama seperti Australia serta meningkatkan daya tarik wisata domestik.
Upaya promosi juga dilakukan melalui partisipasi dalam berbagai pameran internasional untuk mempertahankan posisi Bali sebagai destinasi unggulan.
Suryawijaya berharap ketegangan global dapat segera mereda melalui upaya diplomasi dan perdamaian internasional. Ia menilai stabilitas dunia sangat penting bagi pemulihan ekonomi dan keberlanjutan sektor pariwisata.