redaksiharian.com, Jakarta – Pakistan memperoleh tambahan dana sebesar US$3 miliar atau sekitar Rp51,4 triliun dari Arab Saudi dalam bentuk simpanan deposito. Bantuan ini ditujukan untuk memperkuat cadangan devisa negara tersebut.

Melalui pernyataan resminya, Kementerian Keuangan Pakistan menyampaikan bahwa dana tersebut merupakan bagian dari komitmen Riyadh untuk mendukung stabilitas ekonomi Pakistan. Pencairan dana diperkirakan akan dilakukan dalam waktu dekat.

Bantuan ini datang setelah Pakistan mengumumkan tengah melunasi pinjaman dalam jumlah besar kepada Uni Emirat Arab, yang saat ini juga menjadi pesaing regional Arab Saudi.

Menteri Keuangan Pakistan, Muhammad Aurangzeb, menjelaskan bahwa selain tambahan dana baru, deposito sebelumnya dari Arab Saudi sebesar US$5 miliar juga akan diperpanjang, meskipun belum ditentukan jangka waktunya.

Di sisi lain, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif telah tiba di Arab Saudi untuk melakukan kunjungan selama empat hari. Lawatan ini berlangsung di tengah dinamika kawasan, termasuk rencana kelanjutan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran.

Dalam agenda perjalanannya, Sharif juga dijadwalkan mengunjungi Qatar dan Turki. Kunjungan ini dilakukan setelah pertemuan tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Islamabad pada akhir pekan lalu.

Selama berada di Riyadh, Sharif direncanakan bertemu dengan Putra Mahkota Mohammed bin Salman untuk membahas perkembangan situasi regional yang semakin kompleks.

Pembicaraan sebelumnya di Islamabad menjadi salah satu upaya untuk meredakan konflik yang bermula dari ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran sejak akhir Februari.

Sebagai respons atas konflik tersebut, Iran sempat menargetkan negara-negara sekutu Amerika Serikat di kawasan Teluk, termasuk Arab Saudi dan Qatar, serta membatasi ekspor energi dari wilayah tersebut. Kondisi ini turut memicu kenaikan harga minyak dunia.

Meski perundingan antara Amerika Serikat dan Iran belum menghasilkan kesepakatan, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa dialog masih berpotensi dilanjutkan dalam waktu dekat, dengan Pakistan sebagai salah satu lokasi yang dipertimbangkan.